Neidya, Sang Bidadari yang putus sayapnya
“Wanita yang cocok dengan Ridwan Setiawan adalah wanita yang peka
terhadap kejadian sosial lalu mencintai ilmu dan agamanya”
Jika kalian pernah membaca 7 percepatan rezeki kalian akan
menemukan yang namanya sepasang bidadari yaitu, kedua orang tua kita dan
pasangan hidup kita ( istri ). Disini saya akan sedikit membagi bagaimana
rasanya sakit hati ketika orang yang kita anggap calon istri kita ternyata
lebih memilih laki-laki yang lebih muda dari pada kita.
Namanya Neidya, aku memperhatikan dia ketika ketika dia masih kelas
X, iya aku tahu tentang dia dari Pak Kurniawan, dia yang menawari saya buat
kenal dengan dia, ya dulu sih tidak seperti sekarang jadi ada rasa cinta
kepadanya soanya dia masih kecil baru umur 15 tahun ketika aku kenal sama dia
dan aku sudah berumur 19 tahun pada waktu itu. Dari perbincangan-bincangan
kecil dengan pak kurniawan disana sering Pak kurniawan menceritakan kelebihan
Neydia itu, katanya dia jago sastranya, jago puisinya dan lain-lain, disana aku
bisa menyimpulkan bahwa dia berbakat di dunia sastra.
KIJ, adalah salah satu ekstra kulikuler yang ada di MAN Cianjur,
dengan pembinanya adalah Pak Lili Shaleh, dalam KIJ ini semua siswa belajar
bagimana menjadi seorang penulis, biasanya siswa yang masuk eskul ini adalah
siswa yang baik-baik dan pintar-pintar, maklum dalam eksul ini banyak kegiatan
yang memang hanya orang-orang tertentu yang mau melakukannya, baik menjadi
seorang reporter, jurnaslis atau wartawan itu akan secara tidak langsung akan
mereka lakukan di KIJ, misalnya ketika sekolah mengirimkan wakilnya ke
perlombaan maka dari pihak KIJ harus ada yang mau meliput berita tersebut dan
biasanya perwakilan debat juga suka dari eksul ini.
Neidya adalah ketua dari eksul itu, dimana dia bisa menjadi ketua
tersebut karena dia selalu berprestasi dalam bidang sastra khusunya bidang
puisi, setiap lomba yang dia ikuti pastilah dia akan menjadi pinalis dari lomba
tersebut, aku suka kedia yaitu ketika dia bilang kepadaku bahwa dia tidak suka
dengan yang namanya pacaran, iya perbuatan hina yang sering dilakukan oleh
anak-anak remaja ini menjadi hal yang lumrah terjadi, aku sadar ternyata masih
ada orang yang mau mengatakan tidak mau pacaran pada umur itu, disana saya jadi
menyukai dia dan saya pun menjadikan dia sebagai contoh untuk teguh kepada
pendirian.
Apa hubungan antara neidya dengan
perjalan saya untuk ke turki, saya memang tidak menjadikan pacar dan saya
gunakan dirinya untuk bisa menjadikan lebih baik, pembuktian kepada dia bahwa
saya pun bisa untuk pergi ke turki, yang suatu perjalanan yang panjang ketika
dalam menempuhnya penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Dengan terus
memperhatikan Neidya sebagai calon istri saya, saya jadi lebih tenang dalam
menjalankan cita-citaku untuk bisa berkarya, dengan terus memikirkannya saya
jadi sangat tenang ketika kegelisaan muncul dalam umur yang semakin bertambah
dan kemamuan dalam memenuhi isi hati menjadi tekanan.
28 September 2015, menjadi tanggal
pernikahan kita, walapun dalam hitungan hari ini sangatlah jauh, kenapa saya
harus menyantungkan tanggal pernikahaan ini, karena dalam doa perlu adanya
kejelasalan tempat dan tanggal sehingga Allah akan mengabulkan doa kita, tapi
ini menjadi sebuah rencana ketika saya melihat di jejaring sosial dia menyatakan
bahwa dia sudah mempunyai pacaran, sebenarnya bukan didari segi dia punya atau
tidaknya melainkan melakukan atau tidaknya, karena dalam setiap obrolan pasti
akan sedikit menyinggung tentang makna pacaran seperti apa dan apa hukumnya,
jujur saya adalah orang yang tidak menyukai dengan namanya pacaran, dan orang
yang selalu membuka topic tentang pacaran ternyata dia yang melakukan, apa yang
sebenarnya terjadi apakah masih ada wanita yang bisa menjaga kehormatan
dirinya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
RSS Feed
Twitter
16.51
Ridwan Setiawan
0 komentar:
Posting Komentar