Jumat, 27 Desember 2013

Matahari pun enggan Terbenam

(Ridwan Setiawan)

Sunset Wallpapers (2)

Matahari seakan enggan menenggelamkan dirinya dalam keheningan sore, perubahan merah ke hitam seakan terhentik sejenak. Perlahan matahari terpaksa menurunkan dirinya untuk memenuhi kewajibannya yang biasa dia lakukan, berakhirnya hari yang lama dan munculnya hari yang baru dan untuk menandakan hari kemenangan. Hilir mudik orang-orang membawa sekantong beras untuk menyucikan jiwanya dari kotoran-kotoran tak terlihat, suasana yang hangat antara sipembawa kantong beras dengan sang penerima, terdengar ijab qabul yang mengakhiri kisah duka sang kotoran fana, tercermin cahaya yang bersih bermunculan dari khalayak orang-orang banyak.

Bulan penuh rahmat kini telah berakhir, keistimewaan bulan yang selalu dirindukan orang-orang muslim sedunia telah menuju pintu perpisahan, matahari seakan enggan merelakan kepergiaan bulan penuh berkah itu. Bulan penuh berkah yang memberikan suasana yang hangat sehangat matahari pagi yang menyinari alam semesta ini. Bulan dimana segala ibadah dikalipat gandakan pahalanya, islamic culture yang telah lama hilang kembali bersemi di bulan ini.

Bulan penuh pelatihan, bulan yang istimewa membina langsung kedalam diri manusia untuk menjadi manusia yang berakhlaq budi, melatih langsung kedalam hati yang sangat dalam, meresap kesetiap celah-celah tulang-tulang yang dangkah masuk kedalam aliran darah dan membentuk sel-sel kepribadian yang islam. Akankah bisa kutemukan keistimewaan bulan penuh kepelatihan ini dibulan yang lain, “wahai orang-orag yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana atas orang-orang sebeum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa”

Telah tiba hari kemenangan, dimana manusia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Pelatihan yang diberikan oleh bulan penuh latihan ini telah membentuk suatu dasar yang kuat untuk diterapkan dibulan-bulan yang akan datang. Terseyum kembali matahari yang akan menerbitkan hari yang fitri, manusia berbondong-bondong melepaskan hasrat dalam kesalahan kesetiap insan, tidak ada keraguan, rasa malu untuk meminta maaf hilang, tidak ada lagi pembatas yang membatasi semua dalam keadaan kemenangan, gema takbir mengiringi suasana yang fitri ini gema yang mengetarkan hati dan meluluhkan ego, tidak ada kecanggungan dengan hari kemenangan. Semua orang bersuka cita kata maaf menjadi pengantar utama, kata yang susah diucapkan seakan menjadi kewajiban. Hari kemenangan, hari yang menjadi puncak kemenangan hamba yang shaleh dalam melatih dirinya di bulan yang penuh dengan berkah. Insyallah berkah. “ dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang dianugerahkan kepada kamu agar kamu menjadi orang-orag yang bersyukur”.

0 komentar:

Posting Komentar