Jumat, 27 Desember 2013

Matahari pun enggan Terbenam

(Ridwan Setiawan)

Sunset Wallpapers (2)

Matahari seakan enggan menenggelamkan dirinya dalam keheningan sore, perubahan merah ke hitam seakan terhentik sejenak. Perlahan matahari terpaksa menurunkan dirinya untuk memenuhi kewajibannya yang biasa dia lakukan, berakhirnya hari yang lama dan munculnya hari yang baru dan untuk menandakan hari kemenangan. Hilir mudik orang-orang membawa sekantong beras untuk menyucikan jiwanya dari kotoran-kotoran tak terlihat, suasana yang hangat antara sipembawa kantong beras dengan sang penerima, terdengar ijab qabul yang mengakhiri kisah duka sang kotoran fana, tercermin cahaya yang bersih bermunculan dari khalayak orang-orang banyak.

Bulan penuh rahmat kini telah berakhir, keistimewaan bulan yang selalu dirindukan orang-orang muslim sedunia telah menuju pintu perpisahan, matahari seakan enggan merelakan kepergiaan bulan penuh berkah itu. Bulan penuh berkah yang memberikan suasana yang hangat sehangat matahari pagi yang menyinari alam semesta ini. Bulan dimana segala ibadah dikalipat gandakan pahalanya, islamic culture yang telah lama hilang kembali bersemi di bulan ini.

Bulan penuh pelatihan, bulan yang istimewa membina langsung kedalam diri manusia untuk menjadi manusia yang berakhlaq budi, melatih langsung kedalam hati yang sangat dalam, meresap kesetiap celah-celah tulang-tulang yang dangkah masuk kedalam aliran darah dan membentuk sel-sel kepribadian yang islam. Akankah bisa kutemukan keistimewaan bulan penuh kepelatihan ini dibulan yang lain, “wahai orang-orag yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana atas orang-orang sebeum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa”

Telah tiba hari kemenangan, dimana manusia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Pelatihan yang diberikan oleh bulan penuh latihan ini telah membentuk suatu dasar yang kuat untuk diterapkan dibulan-bulan yang akan datang. Terseyum kembali matahari yang akan menerbitkan hari yang fitri, manusia berbondong-bondong melepaskan hasrat dalam kesalahan kesetiap insan, tidak ada keraguan, rasa malu untuk meminta maaf hilang, tidak ada lagi pembatas yang membatasi semua dalam keadaan kemenangan, gema takbir mengiringi suasana yang fitri ini gema yang mengetarkan hati dan meluluhkan ego, tidak ada kecanggungan dengan hari kemenangan. Semua orang bersuka cita kata maaf menjadi pengantar utama, kata yang susah diucapkan seakan menjadi kewajiban. Hari kemenangan, hari yang menjadi puncak kemenangan hamba yang shaleh dalam melatih dirinya di bulan yang penuh dengan berkah. Insyallah berkah. “ dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang dianugerahkan kepada kamu agar kamu menjadi orang-orag yang bersyukur”.

Senin, 05 Agustus 2013


Neidya, Sang Bidadari yang putus sayapnya

“Wanita yang cocok dengan Ridwan Setiawan adalah wanita yang peka terhadap kejadian sosial lalu mencintai ilmu dan agamanya”


Jika kalian pernah membaca 7 percepatan rezeki kalian akan menemukan yang namanya sepasang bidadari yaitu, kedua orang tua kita dan pasangan hidup kita ( istri ). Disini saya akan sedikit membagi bagaimana rasanya sakit hati ketika orang yang kita anggap calon istri kita ternyata lebih memilih laki-laki yang lebih muda dari pada kita.
Namanya Neidya, aku memperhatikan dia ketika ketika dia masih kelas X, iya aku tahu tentang dia dari Pak Kurniawan, dia yang menawari saya buat kenal dengan dia, ya dulu sih tidak seperti sekarang jadi ada rasa cinta kepadanya soanya dia masih kecil baru umur 15 tahun ketika aku kenal sama dia dan aku sudah berumur 19 tahun pada waktu itu. Dari perbincangan-bincangan kecil dengan pak kurniawan disana sering Pak kurniawan menceritakan kelebihan Neydia itu, katanya dia jago sastranya, jago puisinya dan lain-lain, disana aku bisa menyimpulkan bahwa dia berbakat di dunia sastra.
KIJ, adalah salah satu ekstra kulikuler yang ada di MAN Cianjur, dengan pembinanya adalah Pak Lili Shaleh, dalam KIJ ini semua siswa belajar bagimana menjadi seorang penulis, biasanya siswa yang masuk eskul ini adalah siswa yang baik-baik dan pintar-pintar, maklum dalam eksul ini banyak kegiatan yang memang hanya orang-orang tertentu yang mau melakukannya, baik menjadi seorang reporter, jurnaslis atau wartawan itu akan secara tidak langsung akan mereka lakukan di KIJ, misalnya ketika sekolah mengirimkan wakilnya ke perlombaan maka dari pihak KIJ harus ada yang mau meliput berita tersebut dan biasanya perwakilan debat juga suka dari eksul ini.
Neidya adalah ketua dari eksul itu, dimana dia bisa menjadi ketua tersebut karena dia selalu berprestasi dalam bidang sastra khusunya bidang puisi, setiap lomba yang dia ikuti pastilah dia akan menjadi pinalis dari lomba tersebut, aku suka kedia yaitu ketika dia bilang kepadaku bahwa dia tidak suka dengan yang namanya pacaran, iya perbuatan hina yang sering dilakukan oleh anak-anak remaja ini menjadi hal yang lumrah terjadi, aku sadar ternyata masih ada orang yang mau mengatakan tidak mau pacaran pada umur itu, disana saya jadi menyukai dia dan saya pun menjadikan dia sebagai contoh untuk teguh kepada pendirian.
            Apa hubungan antara neidya dengan perjalan saya untuk ke turki, saya memang tidak menjadikan pacar dan saya gunakan dirinya untuk bisa menjadikan lebih baik, pembuktian kepada dia bahwa saya pun bisa untuk pergi ke turki, yang suatu perjalanan yang panjang ketika dalam menempuhnya penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Dengan terus memperhatikan Neidya sebagai calon istri saya, saya jadi lebih tenang dalam menjalankan cita-citaku untuk bisa berkarya, dengan terus memikirkannya saya jadi sangat tenang ketika kegelisaan muncul dalam umur yang semakin bertambah dan kemamuan dalam memenuhi isi hati menjadi tekanan.
            28 September 2015, menjadi tanggal pernikahan kita, walapun dalam hitungan hari ini sangatlah jauh, kenapa saya harus menyantungkan tanggal pernikahaan ini, karena dalam doa perlu adanya kejelasalan tempat dan tanggal sehingga Allah akan mengabulkan doa kita, tapi ini menjadi sebuah rencana ketika saya melihat di jejaring sosial dia menyatakan bahwa dia sudah mempunyai pacaran, sebenarnya bukan didari segi dia punya atau tidaknya melainkan melakukan atau tidaknya, karena dalam setiap obrolan pasti akan sedikit menyinggung tentang makna pacaran seperti apa dan apa hukumnya, jujur saya adalah orang yang tidak menyukai dengan namanya pacaran, dan orang yang selalu membuka topic tentang pacaran ternyata dia yang melakukan, apa yang sebenarnya terjadi apakah masih ada wanita yang bisa menjaga kehormatan dirinya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

CINTA SUCI DI PENJARA SUCI
( Ridwan Setiawan )

Akhirnya jadi juga kepindahanku ke kota cianjur, kota kecil yang berada di sebelah barat bandung ini memberikan kesan yang indah pada pandangan pertama. Kota yang dibatasi oleh sungai citarum ini memberikan kesan nyaman dan tenang. Beda sekali dengan tempat tinggalku yang hanya mengambarkan keangkuhan dan keegoisan kepada setiap individu, tidak memberikan kesan yang ramah kepada setiap orang yang ada didekatnya. Ini pula yang menjadikan alasan untuk menerima tawaran nenekku untuk pindah ke kota cianjur, tidak apa-apa aku harus meninggalkan gemerlap kota bandung yang penuh dengan kesan eksotis, keramaian dan gemerlap malam kota bandung.
Bis Doa ibu melaju kencang menusuri jalan raya bandung, tidak lepas fanorama keindahan alam yang menghiasi pinggir jalan, aku beserta nenekku duduk di kursi berdua diurutan ketiga dari depan sehingga dari tempat duduk itu terlihat bagian depan bis Doa ibu tersebut.
“inilah cu, tempat nenek tinggal tempat nenek dan ibumu dilahirkan, kota kecil dengan gunung gede sebagai symbol kebesarannya” jelas nenek sambil memandang pemandangan dari jendela.
Aku kurang begitu hafal dengan kota ini, terasa asing bagiku yang semenjak lahir aku hanya tahu kota bandung dan tidak pernah berkunjung ke kota lain termasuk cianjur. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh nenekku, yang aku tahu adalah aku akan tinggal dengan nenekku dan bersekolah di tempat nenek dan ibuku dulu belajar.
Tidak terasa, Bis pun berhenti di terminal rawa bango, terminal yang terlihat sepi ini hanya menjadikan tempat persinggahan sesaat oleh para pengendara bis kota. Tidak ada satu pun bis yang sengaja diam diterminal ini. Kumuh dan kotor yang menggambarkan terminal ini.
“cu, hayu turun kita udah sampai” ajak nenek kepadaku
“oh udah sampainya ne, kok tempatnya aneh gini nek” tanyaku heran dengan keadaan terminal tersebut.
Nenekku tidak terlalu berkomentar dengan ucapan yang aku lontarkan kepada nenekku tadi, langsung nenekku berjalan menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari terminal itu, aku tidak tahu kalau nenekku akan mendaftarkan aku kesekolah yang mana, yang jelas aku disuruh oleh ibuku untuk menuruti segala perintah nenekku.
“cu, inilah sekolah yang nenek dan ibumu belajar dulu” jelas neneku sambil menunjuk kepada papan nama sekolah
“ SMA Terpadu nek?” jawabku heran
“ iya cu, sekarang sekolah ini udah bagus dan udah berjalin kerja sama dengan timur tengah dan fasilitasnya juga udah baik” jelas nenekku sambil berjalan masuk kedalam gerbang
“ah, SMA Terpadu kirain SMA yang udah internasional, masa jauh-jauh pindah dari bandung hanya untuk sekolah di sekolah ini nek” ujarku kepada nenekku.
Nenekku hanya terseyum mendengar ucapanku, dia seperti tidak mengganggap ucapanku dan seperti mewajarkan apa yang telah aku katakan.
Aku pun di ajak oleh nenekku masuk ke dalam kantor sekolah, terlihat tulisan dari karton yang tertulis penerimaan santri baru. Terdengar lucu olehku karena aku tidak pernh niat ingin menjadi santri, lebih baik kalau aku tetap tinggal di bandung dan masuk ke SMA Negeri 3 bandung, udah jelas secara kualitas dan fasilitas. Tapi kenapa ibu dan neneku mengajakku untuk melanjutkan disekolah ini di SMA Terpadu.
Bulan pertama aku tidak bisa menikmati suasana belajar di sekolah ini, tidak ada hasrat untuk belajar. Kegemaranku terhadap Ilmu matematika dan fisika seperti tidak berkembang disekolah ini. Sekolah yang lebih mempioritaskan ilmu agama tersebut lebih banyak mempelajari kitab-kitab tradisional. Kejenuhanku sedikit terobati ketika aku bergaul dengan teman-teman sekamarku, aku tinggal dikamar yag berukuran 4x6 dengan beranggotakan 4 orang termasuk aku, mereka sudah aku anggap keluarga sendiri, Ahmad dan Ujang, mereka adalah teman baiku, ahmad yang berasal keluarga Ustad pemilik pesantren yang terkenal di Sukabumi itu memiliki hobi menulis, tidak hayal aku pun menjadi langganan cerpen-cerpen dia. Ujang, teman satuku ini adalah anak dari seorang Bos Pete di cianjur, dialah yang menjadikan kamar ini bau dengan petenya dia yang mempunyai hobi nonton FTV ini mempunyai cita-cita menjadi Produser FTV islami. Merekalah yang selalu menemaniku dalam mengarungi kehidupan di penjara ini.
Aku termasuk santri yang tidak terlalu di sekolah, banyak teman-temanku baru bulan pertama sudah masuk kedalam ekstrakulikuler sekolah, banyak yang merapat juga dengan eksul lain, dirata-rata setiap santri angkatanku mengikuti 2 eksul. Aku suka heran bagaimana mereka bisa membagi waktu dengan sekolahnya kalau waktu mereka habiskan hanya untuk berkumpul dan rapat, sungguh aneh mereka. Sama halnya dengan Ahmad dan Ujang, mereka sama denganku tidak mengikuti eksul disekolah tapi mereka berdua bisa dibilang santri yang bisa langsung berbaur, tidak hanyal mereka sampai bisa kenal satu angkatan baik santri perempuan dan santri laki-laki.
“hei wan, kamu mau diam terus dikamar?mainlah keluar berbaur dengan teman yang lain.”ajak Ahmad sambil mengambil buku catatannya.
“ah males mad, pastinya yang diobrolin pastinya tentang kitab gundul lagi kalau tidak tentang santriwati”jawabku sambil menutup diri dengan selimut.
“hmmm…iya udah kalau kamu mau jadi sleapman.hahaha. oh ya wan, ngomong-ngomong si Ujang kemananya?”Tanya ahmad heran
“aduh ini si Ahmad, udah sana pergi mau tidur nih, si ujang lagi di warung si Ibi lagi liat FTV disana” ujarku dengan kesal.
“oke, selamat tidurnya dede bayiku sayang”ledek ahmad kepadaku
Aku pun langsung lempar ahmad dengan bantal bunga-bunga kesayanganku kearah si ahmad, dia pun dengan cekatan bisa menangkis tembakan meriam andalanku.
“eits, gak kena-kena” ledek ahmad kepadaku.
Satu tahun telah aku lalui, aku masuk dalam sepuluh besar santri yang berprestasi walaupun jika melihat dari hasil raport, aku tertolong dengan mata pelajaran umumku, tapi ada perubahan yang aku dapat setelah menjalani satu tahun di penjara ini, aku menjadi senang belajar tafsir Shahih Muslim, tidak tahu kenapa alasannya tapi aku menjadi suka dengan pengajian itu.
Ahmad tetap menjadi santri No 1, dia sudah hafal 10 Juz dalam Al-Quran tidak heran dia yang ingin menjadi cendikiawan ini siang malam dia selalu menambah hafalanya tidak ketinggalan aku dan Ujang pun ikut belajar dari dia. Dari hasil kami bertiga, Ujanglah yang paling jelek malahan dia masuk dalam urutan 10 besar santri terbawah, tapi jangan salah dia mempunyai bakat yang lain, selama setahun disini dia sudah membuat 10 teks naskah drama dan 3 diantaranya dipakai oleh eksul teater dan teater di DKC, aku bisa melihat kalau Ujang berbakat menjadi seorang penulis naskah dan juga sutradara yang hebat.
Pengumuman pun dimulai, kita semua dipanggil satu per satu sesuai dengan peringkat yang kami dapat, aku mendapatkan pringkat kelima dan Ahmad menjadi santri pertama yang dipanggil sama Ustad Usman dan menjadikan Ahmad santri terbaik angkatan aku.
“memang hebat Ahmad, dia menjadi santri terbaik di tahun pertamanya”ujarku dalam hati
Ustad Usman melanjutkan kembali pengumumannya, sekarang beliau akan mengumuman santri teladan tahun 2012, prestasi yang direbutkan oleh 3 angkatan ini diambil satu dari yang terbaik tidak heran kalau prestasi ini ditunggu-tunggu oleh semua santri
“untuk santri teladan untuk tahun ini diraih oleh Kamila Etna Larasati Mahera dari tingkat satu”ujar Ustad Usman dengan dibarengi tepuk tangan yang meriah dari semua santri.
Semua santri menyambut meriah pengumuman dari Ustad Usman, mereka bertanya-tanya siapakah gadis yang bernama Kamila Etna larasati mahera itu sehingga bisa mendapatkan penghargaan sebagai santri teladan.Aku menjadi penasaran dengan gadis berkacamata tersebut,jika dilihat dia memang mempunyai daya tarik yang berbeda dengan gadis lain perawakan yang sederhana dan murah seyum itu membuat dirinya lebih special tidak hanyal banyak santri yang menaruh harapan kepada dia, termasuk aku pada pandangan pertama.
Pengumuman pun selesai, para santri kembali lagi ke asrama masing-masing, Aku, ahmad dan Ujang lebih memilih untuk pergi ke kantin sekolah.
“Ahmad, Ujang. Kalian kenal tidak dengan gadis yang dapat gelar santri teladan itu?”tanyaku penasaran kepada mereka.
“ya kenallah wan”jawab mereka bersama
“wah, yang bener kalian. Kalian pada kenal dengan dia?”sambungku dengan semangat
“ya udah saya ceritakannya, namanya kamila etna larasati mahera kita sering memanggilnya etna, dia itu satu ekskul dengan saya di ekskul Hafidz Quran, orangnya baik dan shalehah dia juga sudah hafal lebih dari saya kalau tidak salah udah 15 juz, tidak heran sih untuk orang yang mau melanjutin study ke Al-Azhar University Cairo”jelas Ahmad kepadaku
“memang ada apa wan, tumben kamu Tanya-tanya tentang wanita?”Tanya ahmad heran
“aha, ini sinyal mad kalau si Ridwan suka sama etna”lanjut Ujang sambil makan gorengannya
“ah ini si ujang sembarangan kalau menyimpulkan”ucapku dengan sedikit malu
“eh ujang udah, biarkan aja si Ridwan juga manusia dia punya perasaan, biarkan maniak Descartes ini jatuh cinta kepada gadis yang bernama etna itu”gurau ahmad kepada kami berdua
Kami pun menyudahi perbincangan di kantin itu, kami langsung beranjak pergi ke asrama untuk istirahat, Aku merasa beruntung punya teman seperti ahmad dan ujang, merekalah yang membuat aku betah tinggal di penjara suci ini.
Kehadiran etna dalam hidupku menjadikan jalan kehidupan di penjara ini sedikit berubah, tidak tahu kenapa aku menjadi suka melamunkan dirinya. Gadis berkaca mata itu menjadi lebih anggun dibalut kerudung panjang yang indah, penampilan yang sederhana itu menjadi lebih menarik dibandingkan gadis sekarang yang lebih mementingkah style. Kehadiran etna dalam hatiku menjadikan hiasan baru untuk menempuh tahun keduaku di penjaran ini.
Ajaran tahun baru sudah dimulai kembali, para santri yang pulang kerumah masing-masing sudah kembali lagi ke Asrama. Aku, Ahmad dan Ujang memutuskan untuk tidak pulang kerumah dan lebih memilih untuk berlibur di Asrama. Para santri dari angkatan 2 dan 3 yang masuk kedalam 10 santri berprestasi diminta oleh pak kiyai untuk dijadikan paniti Ta’aruf Santri untuk membantu OSIS, saran dari Ahmad dan Ujang, aku dimasukan  sebagai seksi dokumentasi, ujang sebagai seksi displin dan Ahmad sebagai Humas.
Rapat panitia pun langsung dilaksanakan malamnya, rapat perdana dilaksanaka di Aula Mumtaza. Rapat pertama itu lebih memfokuskan kedalam acara dan aku sudah bekerja pada rapat pertama itu, aku langsung mengambil momen rapat perdana itu, seksi acara yang di koordinatori oleh Etna menjadi bagian penting pada acara malam itu, konsep acara taarufnya begitu memukau semua panitia, dia memang cerdas dan semua orang mengakuinya.
“memang etna bener-bener hebat”gumamku dalam hati sambil mengarahkan kamera kearahnya
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan sebagai dokumentasi untuk mengambil fhoto-fhotonya ketika rapat.
3 minggu semua panitia melakukan rapat, semua kebutuhan sudah dipersiapkan dan pelaksanan pun akan dilaksanakan keesokan harinya, semua panitia bekerja secara professional dan sesuai dengan tugasnya. Ahmad terlihat sudah lebih mahir saat mengobrol dengan pemateri, Ujang menjadi panitia yang paling disiplin dan mendapat predikat kakak tergalak, yang menjadi primadona dalam acara taaruf itu adalah Etna, dia yang menjadi MC setiap acara di taaruf tersebut. Aku tidak pernah menyia-nyiakan kesempatanku untuk mengambil gambar dirinya ketika berbicara di depan peserta. Akhirnya pelaksanaan taaruf santri berakhir dengan baik, kita mendapatkan pujian dari pak Kiayi dalam pelaksanaannya.
Pembelajaran tahun baru akhirnya, aku sekarang sudah kelas XI dan jurusan yang aku ambil adalah IPA, Ahmad dia lebih memilih jurusan IAI dan Ujang di memilih jurusan Bahasa. Kita masih satu kamar dan tidak ada yang berubah dari mereka. Aku segera ingin mengetahui etna dia memilih jurusan apa, aku, Ahmad dan ujang langsung pergi menuju kantor TU untuk melihat papan pengumuman disana sudah tertempel nama-nama santri dan kelasnya.
“kamila etna, dimananya kelasnya”pikirku dalam hati sambil melihat daftar nama dan kelasnya
“Ridwan, Etna satu kelas dengan saya” ujar Ujang
“wah yang bener jang, hmm kelas bahasanya?”sambutku dengan sontak
“jelaslah kalau dia ngambil jurusan bahasa, karena diakan ingin melanjutkan study di Al-Azhar University jadi ngambil jurusan bahasa agar bisa lebih mendalami bahasa arabnya”jelas Ahmad
Dari penjelasan ahmad, aku menjadi sadar bahwa aku ada di ponpes ini tanpa tujuan, etna telah mengajarkan kepadaku untuk mempunyai tujuan. Lalu apa tujuanku ada disini dan niatku apa untuk ada disini.
“aku harus punya tujuan dari sini”pikirku dalam hati
“oke teman-teman, kita siap untuk menghadapi ajaran tahun ini!”ajakku kepada mereka
“oke kita siap”terik mereka berdua.


True Story
Karunia Bakti, Bukti Pertemuan kita
Ridwan Setiawan
Dulu aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama, aku sering meragukan cinta itu, karena biasanya cinta pada padangan pertama itu pada dasarnya adalah bentuk kepenasaran suatu perasaan kepada seseorang yang baru dijumpai. Terkadang hal yang cepat muncul itu akan menjadi tidak bermakna jika dalam menghadapinya dengan kekosongan. Tapi teori yang aku pegang itu menjadi tidak berlaku ketika pertemuanku dengan gadis berkeredung pink itu.
Pada awalnya Aku sering tidak pernah mau naik Bis Karunia Bakti, alasannya sih karena ongkosnya yang mahal dan sering ngetemnya itu yang buat aku tidak menyukainya. Aku adalah mahasiswa salah satu Univesitas negeri di Bandung, pada waktu itu aku berencana kembali ke bandung untuk mengisi KRS buat semester depan, maklumlah dosen pembimbingku super sibuk bisa jadi sekarang dia di bandung besoknya sudah di kota lain bisa di Aceh, Palembang makasar dan tempat-tempat yang lain, makanya aku tidak berpikir panjang untuk berangkat ke Bandung, soalnya jika tidak hari esok entah hari apa lagi aku bisa bimbingan, aku tinggal di Kab Cianjur lumayan jarak cianjur dengan bandung berkisar kurang lebih 2-3 jam maka aku putuskan untuk berangkat ke bandung sore hari.
Sorenya, aku bersiap berangkat menuju bandung, sebenarnya aku sudah telat 1 jam untuk berangkat jika aku berharap bisa naik Bis Doa Ibu jurusan Tasik Jakarta yang terkenal super murah dan cepatnya, “tidak apa-apalah Karunia bakti juga” pikirku ketika aku sambil melihat jam HP Siemens A55ku yang menunjukan jam 16:30 WIB.
“mana lagi itu bis lama banget!” kesalku ketika lama menunggu Bis yang jurusan Cileunyi. Aku menunggu datangnya bis di terminal Pasir hayam atau lebih di kenal dengan Jebrod kebetulan aku dekat dengan terminal ini, cianjur memilki 2 terminal sebenarnya yaitu terminal Pasir hayam dan terminal Rawabango, nantinya Bis yang akan mengarah ke Bandung pasti akan berhenti dulu di dua terminal itu.
Berapa menit kemudian munculah bis Karunia Bakti jurusan Jakarta Garut itu, dengan dibarengi terik sang kondektor yang nyaring sehingga dari jarak yang jauh sudah terdengar kerasnya.
“ CILEUNYI-CILEUNYI!!” teriak kondektor itu
“PAK BERHENTI, AKU MAU IKUT” teriaku untuk bisa memberhentikan Bis itu
“Cileunyi pak?” tanyaku
“ iya de, ini arah cileunyi”
“kalau ke cileunyi ongkosnya berapa?” tanyaku kepada kondektor itu,
katanya kalau naik Bis ini ongkosnya sering berubah-berubah kadang-kadang 12 rebu, kadang-kadang bisa jadi 15 rebu.
“ 15 rebu “ jawab kondektor dengan dingin
“ iya mahal pak, biasanya juga 12 rebu masa naik gini, kemarinkan masih 12 rebu kenapa sekarang 15 rebu”
“ya udah mana uangnya” dengan sedikit kesal kondektor pun pergi menuju penumpang yang lain.
Aku memilih duduk di kursi dua dan posisiku lumayan ditengah-tengah bis, aku sering duduk yang kursi berdua itu biar nyaman aja, karena kalau yang kursi tiga itu kurang nyaman biasanya duduknya yang tidak bisa teratur.
Aku duduk bersama seorang ibu-ibu, kelihatan dari wajahnya ibu ini lagi sakit dengan terlihat dari murat wajahnya yang pucat dan lingkaran matanya yang hitam.
“Bu, Kursi ini Kosong?” tanyaku kepada ibu itu
Ibu itu langsung aja mempersilahkan Aku duduk tanpa mengatakan apa pun
“maaf ibu lagi sakitnya” Tanyaku kepada ibu itu.
“iya dek, maaf ya kalau nanti muntah” ujar ibu itu sedikit terseyum
Aku hanya membalas dengan seyuman kepada ibu tersebut, bis pun segera berangkat meninggalkan terminal Pasir Hayam,
Bis pun berangkat, Bis ini akan berangkat menuju Terminal Rawabango, terminal kedua di cianjur, biasanya di Rawabango penumpang akan lebih banyak soalnya Terminal itu lumayan deket pusat kota.
“Baru Terminal rawabango” gumamku
“ udah jam 17:30 WIB baru nyampe sini, jam berapa nyampe Bandung” kesal aku sambil melihat sekitar-sekitar dalam bis.
Banyak yang masuk kedalam Bis itu di antaranya ada tentara yang masuk Bis itu dengan pakaian lengkap militer, ada para pedangan asongan dan terlintas aku melihat pemandangan yang tidak wajar, aku tertarik untuk melihat salah satu sudut tempat duduk di arah belakang dengan tempat dudukku.
Terlihat tiga orang wanita duduk di bangku tiga belakangku, aku perhatikan secara seksama kearah mereka, aku perhatikan kearah mereka dengan sekali-kali mencuri pandangan ke salah satu wanita dari rombongan itu, mereka datang bertiga yang satu memakai rok batik hitam dengan baju dan kerudung warna biru, yang satu pakai celana jeans dan kaos dan yang satu ini yang membuat aku tertarik seorang wanita dengan memakai rok hitam dan baju pola kemeja kotak-kota warna pink putih dengan kerudung warna pink, terlihat untuk wanita satu ini dia mememilih untuk diam saja di bandingkan teman-temannya yang lebih banyak ngobrol.
Aku terus mencuri pandangan arah wanita yang mempunyai, wajah alami yang mengenakan hati, memberikan cahaya jiwa masuk dalam sukma, memberi ketenangan ketika melihatnya.
“ ah siapa ya gadis itu?” pikirku dalam hati
“lihat saja jika memang aku jodoh sama dia suatu saat nanti aku pasti bisa kenal dengan dia” tegasku dengan begitu yakin.
Udah satu jam perjalanan menuju bandung, keadaan di dalam bis lebih banyak sepinya terlihat para penumpang lebih banyak menghabiskan tidur dalam menempuh perjalanan ini, maklum jam sudah menunjukan 19:00 WIB. Tidak seperti biasanya perjalanan sangat lambat, biasanya dalam waktu satu jam bis selalu sudah berada di gerbang Tol padalarang, tapi kali ini beda, sampai saat ini Bis baru nyampe cipatat. Rute cipatat yang berbelok-belok dan menanjakan menjadikan kendala sendiri sehingga pergerakan bis agak sedikit lambat dengan beban bis yang melebihi batas maksimalnya.
Untuk mengisi waktu, biasanya aku sering melihat keadaan di dalam bis, ya untuk sekedar iseng aku suka melihat ekspresi wajah setiap penumpang, ada yang wajahnya tegang, ada yang sedih ada yang penuh dengan beban, hal ini bisa dilihat dari murat wajah dari orang-orang tersebut,hal ini sering aku lakukan jika aku berada di keramaian, aku selalu ingin mengetahui perasaan seorang dengan hanya melihat wajahnya, sesekali aku mencuri pandangan kepada gadis berkerudung pink itu, terlihat dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku, lebih lihat seksama buku yang dia baca adalah buku Bumi Cinta karya habiburahman el sirazy, dia begitu serius membaca buku itu dan memang isi buku itu bagus sekali karena berisi perjuangan seorang santri di negeri Rusia yang terkenal dengan Seks bebasnya. Karena terlalu asyik melihat gadis itu tidak di sadari aku diperhatikan juga oleh gadis itu, sedikit mengadu mata yang seakan memberikan tanda perkenalan aku pun berusaha untuk bisa tetap mengendalikan hasrat ini.
“aduh aduh, uuuoooo” terdengar seorang lagi muntah
“ wah ibu!!” teriakku kepada ibu-ibu yang duduk di samping aku
“ aduh maaf ade! ibu tidak kuat, punya kantong plastik” Tanya ibu itu dengan nada yang sudah melemah.
Aku pun langsung berdiri untuk mengambil kantong plastic yang ada di tas aku, karena kaget aku jadi lupa menyimpan kantong itu dimana, tiba-tiba.
“gubrak!, suara apa itu? Tanyaku heran ketika sibuk mencari kantong plastik yang lupa menyimpannya.
Ketika kantong plastik sudah aku temukan, aku tidak sadar kalau posisi ibu itu sudah jatuh kebawah.
“IBU-IBU BANGUN!” teriakku ketika aku tahu kalau suara itu berasal dari tubuh Ibu yang terjatuh karena pingsan.
posisi yang jatuh kebawah menjadi perhatian penumpang yang lainnya, mereka terlihat keheranan dengan keadaan ibu itu. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung mengangkat tubuh ibu ke kursi. Aku angkat tubuh ibu itu seperti duduk dengan kepala yang aku sengajakan menyender ke bahu ku, Aku jadi pusat perhatian, tapi sayang tidak ada satu penumpang pun yang mau membantu aku untuk merawat ibu ini, mungkin mereka mengira bahwa ibu ini adalah ibu kandungku tapi tidak ada kepekaan dalam hati para penumpang ini melihat orang yang lagi mendapatkan musibah, mungkin ini yang namanya hati yang beku itu.
Aku pun menjadi semakin bingung ketika ibu itu jatuh pingsan, tidak ada bisa yang aku lakukan aku yang dulu di SMA sering mengukuti kegiatan PMR pun tidak ada yang bisa Aku lakukan, yang bisa aku lakukan hanya mengolesin tangan Ibu itu dengan minyak telon.
“ maaf ka, ada yang bisa saya bantu?”terdengar suara dari belakang.
Saat aku melihat ternyata dibelakang sudah ada gadis yang berkerudung pink itu mendekat menghampiriku.
“heu..iya bisa” jawabku dengan sedikit gugup setelah melihat dia
“ kenapa ka dengan ibunya?” Tanya dia heran
“ kurang tahu, tadi sih aku mau ngambil kantong buat ibu ini karena tadinya ibu ini muntah, eh tahu-tahunya dia jadi pingsan” jawabku sambil terus memijit-mijit bahu ibu itu.
“memang awalnya bagaimana ka?”lanjut gadis itu.
“ awalnya sih dia memang bilang sakit dan memang dari pas pemberangkatan dia udah kelihatan pucat”.
“ ya udah ka kalau gitu, mungkin aku bisa ikut merawatnya” tegas gadis itu begitu mantapnya.
Akhirnya kita berdua bertukaran tempat duduk, aku menjadi duduk bersama teman-temanya di belakang, lalu gadis itu duduk di tempat dudukku dengan terus merawat ibu yang sedang sakit itu.
 Dari arah belakang, aku terus memperhatikan kasih sayang wanita itu ibu itu terlihat nyaman berada menyender dibahu gadis itu seperti bayi yang berada didalam pelukan ibunya yang haus akan kasih sayang seorang ibu.
Bis sudah memasuki tol padalarang, belum terlihat tanda-tanda ibu itu akan sehat, ada kekhawatiran tersendiri dalam diriku, aku merasa ibu itu menjadi tanggung jawabku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Malu aku sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa menjaga atau melindungi wanita yang ada disebelahku.
“ka, kok serius sekali melihat ibu itu”tanya gadis yang duduk disebelahku
“oh tidak, cuman kagum aja sama gadis itu kok mau mauanya dia merawat ibu tua yang dia tidak kenal”jawabku sambil tetap memperhatikan kearah ibu itu.
“oh wajar sih ka, dia kan kuliahnya di kebidanan sudah biasa dia merawat-rawat seperti itu”jawab gadis itu kembali
“oh gadis berkerudung pink itu mahasiswa kebidanan ya, tapi aku malu untuk menanyakan yang lebih jelasnya”pikirku dalam hati
Kami pun menjadi saling diam lagi, kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua teman gadis berkerudung pink itu lebih banyak membaca buku dan main handpone.
12 KM lagi menuju terminal cileunyi, ibu masih belum menampakan tanda-tanda akan siuman aku jadi serba salah dengan keadaan yang aku hadapi.
“kakak!”terdengar suara yang masuk kedalam telingaku ketika tidur
“oh de, ada apa?”tanyaku sambil mengusap wajah yang terlihat bangun tidur
“ibu ini masih belum siuman, kakak tahu rumah ibu ini dimana?”tanya gadis itu penasaran
“aduh de, ka juga tidak tahu, bagaimana ya?”jawabku kebingungan
“kalau begitu, di cileunyi ada rumah sakit bagaimana kalau kita bawa aja kesana”ujar gadis itu
“iya boleh”ucapku tegas.
Beberapa menit setelah aku dan gadis itu saling berbicara, ibu itu sudah mulai menampakan kesehatan dalam dirinya.
“Allahuakbar”takbir ibu tersebut
“aduh, maaf ade-ade jadi merepotkan kalian”ucap ibu itu sambil lemas
“oh tidak apa-apa kok”jawabku serempak dengan gadis itu
“ibu, kami berencana mau membawa ibu untuk kerumah sakit soalnya ibu masih lemas”ujar gadis itu dengan penuh perhatian
“tidak usah ibu udah sehat kok”jawab ibu itu sambil menguatkan dirinya
“ibu tinggal dimana, mungkin aku bisa mengantar ibu sampai tujuan”aku mencoba menawarkan diri.
“tidak usah, ibu tinggal di Majalaya udah dekat kok!”
Akhirnya ibu tersebut telah sadar, tidak terasa kondektor sudah memberitahu bis ini sudah sampai cileunyi. Ibu itu terlihat terseyum kepada kami berdua aku, aku menjadi khawatir kepada ibu ini apakah dia baik-baik saja.
Aku dan penumpang lainnya turun dari bis karuni bakti ini, cileunyi menampakan kepadatannya bis-bis dari jurusan daerah lain secara bersamaan berhenti.
“terima kasih ya, udah bantu aku ngurusin ibu yang sedang sakit itu”sapa aku kepada gadis pink itu
“iya sama-sama, aku juga terima kasih ke kakak udah menyadarkan aku dari sifat ketidak pedulian”jawab dia rendah hati
Aku pun hanya membalas dengan seyuman, wanita itu menjadi lambang kepedulianku tentang membantu sesama.
“ka, aku pamit dulu. Assalamualaikum”sambil berjalan kearah yang berlawan denganku
“walaikumsalam”jawabku sambil berbalik badan.
Gadis itu pun sudah tidak terlihat kembali, seakan tengelam oleh keramaian terminal cileunyi, bis karunia bakti membuat kisah menarik, gadis kerudung pink itu pun menjadi bagaian dari rangkaian kisah yang aku buat.
Aku pun naik kedalam angkot, sambil menunggu angkot itu berjalan aku pun teringat kalau di dalam tasku ada makanan ringan, saat aku buka tasku aku menemukan secarik kertas kecil dari dalam tasku yang bertuliskan.
              Kakak sepertinya suka dengan teman aku ya, namanya Nida Antika Sari
“Nida ternyata namanya”ucapku dalam hati seiring berjalannya angkot jurusan caheum cileunyi.