Senin, 05 Agustus 2013


CINTA SUCI DI PENJARA SUCI
( Ridwan Setiawan )

Akhirnya jadi juga kepindahanku ke kota cianjur, kota kecil yang berada di sebelah barat bandung ini memberikan kesan yang indah pada pandangan pertama. Kota yang dibatasi oleh sungai citarum ini memberikan kesan nyaman dan tenang. Beda sekali dengan tempat tinggalku yang hanya mengambarkan keangkuhan dan keegoisan kepada setiap individu, tidak memberikan kesan yang ramah kepada setiap orang yang ada didekatnya. Ini pula yang menjadikan alasan untuk menerima tawaran nenekku untuk pindah ke kota cianjur, tidak apa-apa aku harus meninggalkan gemerlap kota bandung yang penuh dengan kesan eksotis, keramaian dan gemerlap malam kota bandung.
Bis Doa ibu melaju kencang menusuri jalan raya bandung, tidak lepas fanorama keindahan alam yang menghiasi pinggir jalan, aku beserta nenekku duduk di kursi berdua diurutan ketiga dari depan sehingga dari tempat duduk itu terlihat bagian depan bis Doa ibu tersebut.
“inilah cu, tempat nenek tinggal tempat nenek dan ibumu dilahirkan, kota kecil dengan gunung gede sebagai symbol kebesarannya” jelas nenek sambil memandang pemandangan dari jendela.
Aku kurang begitu hafal dengan kota ini, terasa asing bagiku yang semenjak lahir aku hanya tahu kota bandung dan tidak pernah berkunjung ke kota lain termasuk cianjur. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh nenekku, yang aku tahu adalah aku akan tinggal dengan nenekku dan bersekolah di tempat nenek dan ibuku dulu belajar.
Tidak terasa, Bis pun berhenti di terminal rawa bango, terminal yang terlihat sepi ini hanya menjadikan tempat persinggahan sesaat oleh para pengendara bis kota. Tidak ada satu pun bis yang sengaja diam diterminal ini. Kumuh dan kotor yang menggambarkan terminal ini.
“cu, hayu turun kita udah sampai” ajak nenek kepadaku
“oh udah sampainya ne, kok tempatnya aneh gini nek” tanyaku heran dengan keadaan terminal tersebut.
Nenekku tidak terlalu berkomentar dengan ucapan yang aku lontarkan kepada nenekku tadi, langsung nenekku berjalan menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari terminal itu, aku tidak tahu kalau nenekku akan mendaftarkan aku kesekolah yang mana, yang jelas aku disuruh oleh ibuku untuk menuruti segala perintah nenekku.
“cu, inilah sekolah yang nenek dan ibumu belajar dulu” jelas neneku sambil menunjuk kepada papan nama sekolah
“ SMA Terpadu nek?” jawabku heran
“ iya cu, sekarang sekolah ini udah bagus dan udah berjalin kerja sama dengan timur tengah dan fasilitasnya juga udah baik” jelas nenekku sambil berjalan masuk kedalam gerbang
“ah, SMA Terpadu kirain SMA yang udah internasional, masa jauh-jauh pindah dari bandung hanya untuk sekolah di sekolah ini nek” ujarku kepada nenekku.
Nenekku hanya terseyum mendengar ucapanku, dia seperti tidak mengganggap ucapanku dan seperti mewajarkan apa yang telah aku katakan.
Aku pun di ajak oleh nenekku masuk ke dalam kantor sekolah, terlihat tulisan dari karton yang tertulis penerimaan santri baru. Terdengar lucu olehku karena aku tidak pernh niat ingin menjadi santri, lebih baik kalau aku tetap tinggal di bandung dan masuk ke SMA Negeri 3 bandung, udah jelas secara kualitas dan fasilitas. Tapi kenapa ibu dan neneku mengajakku untuk melanjutkan disekolah ini di SMA Terpadu.
Bulan pertama aku tidak bisa menikmati suasana belajar di sekolah ini, tidak ada hasrat untuk belajar. Kegemaranku terhadap Ilmu matematika dan fisika seperti tidak berkembang disekolah ini. Sekolah yang lebih mempioritaskan ilmu agama tersebut lebih banyak mempelajari kitab-kitab tradisional. Kejenuhanku sedikit terobati ketika aku bergaul dengan teman-teman sekamarku, aku tinggal dikamar yag berukuran 4x6 dengan beranggotakan 4 orang termasuk aku, mereka sudah aku anggap keluarga sendiri, Ahmad dan Ujang, mereka adalah teman baiku, ahmad yang berasal keluarga Ustad pemilik pesantren yang terkenal di Sukabumi itu memiliki hobi menulis, tidak hayal aku pun menjadi langganan cerpen-cerpen dia. Ujang, teman satuku ini adalah anak dari seorang Bos Pete di cianjur, dialah yang menjadikan kamar ini bau dengan petenya dia yang mempunyai hobi nonton FTV ini mempunyai cita-cita menjadi Produser FTV islami. Merekalah yang selalu menemaniku dalam mengarungi kehidupan di penjara ini.
Aku termasuk santri yang tidak terlalu di sekolah, banyak teman-temanku baru bulan pertama sudah masuk kedalam ekstrakulikuler sekolah, banyak yang merapat juga dengan eksul lain, dirata-rata setiap santri angkatanku mengikuti 2 eksul. Aku suka heran bagaimana mereka bisa membagi waktu dengan sekolahnya kalau waktu mereka habiskan hanya untuk berkumpul dan rapat, sungguh aneh mereka. Sama halnya dengan Ahmad dan Ujang, mereka sama denganku tidak mengikuti eksul disekolah tapi mereka berdua bisa dibilang santri yang bisa langsung berbaur, tidak hanyal mereka sampai bisa kenal satu angkatan baik santri perempuan dan santri laki-laki.
“hei wan, kamu mau diam terus dikamar?mainlah keluar berbaur dengan teman yang lain.”ajak Ahmad sambil mengambil buku catatannya.
“ah males mad, pastinya yang diobrolin pastinya tentang kitab gundul lagi kalau tidak tentang santriwati”jawabku sambil menutup diri dengan selimut.
“hmmm…iya udah kalau kamu mau jadi sleapman.hahaha. oh ya wan, ngomong-ngomong si Ujang kemananya?”Tanya ahmad heran
“aduh ini si Ahmad, udah sana pergi mau tidur nih, si ujang lagi di warung si Ibi lagi liat FTV disana” ujarku dengan kesal.
“oke, selamat tidurnya dede bayiku sayang”ledek ahmad kepadaku
Aku pun langsung lempar ahmad dengan bantal bunga-bunga kesayanganku kearah si ahmad, dia pun dengan cekatan bisa menangkis tembakan meriam andalanku.
“eits, gak kena-kena” ledek ahmad kepadaku.
Satu tahun telah aku lalui, aku masuk dalam sepuluh besar santri yang berprestasi walaupun jika melihat dari hasil raport, aku tertolong dengan mata pelajaran umumku, tapi ada perubahan yang aku dapat setelah menjalani satu tahun di penjara ini, aku menjadi senang belajar tafsir Shahih Muslim, tidak tahu kenapa alasannya tapi aku menjadi suka dengan pengajian itu.
Ahmad tetap menjadi santri No 1, dia sudah hafal 10 Juz dalam Al-Quran tidak heran dia yang ingin menjadi cendikiawan ini siang malam dia selalu menambah hafalanya tidak ketinggalan aku dan Ujang pun ikut belajar dari dia. Dari hasil kami bertiga, Ujanglah yang paling jelek malahan dia masuk dalam urutan 10 besar santri terbawah, tapi jangan salah dia mempunyai bakat yang lain, selama setahun disini dia sudah membuat 10 teks naskah drama dan 3 diantaranya dipakai oleh eksul teater dan teater di DKC, aku bisa melihat kalau Ujang berbakat menjadi seorang penulis naskah dan juga sutradara yang hebat.
Pengumuman pun dimulai, kita semua dipanggil satu per satu sesuai dengan peringkat yang kami dapat, aku mendapatkan pringkat kelima dan Ahmad menjadi santri pertama yang dipanggil sama Ustad Usman dan menjadikan Ahmad santri terbaik angkatan aku.
“memang hebat Ahmad, dia menjadi santri terbaik di tahun pertamanya”ujarku dalam hati
Ustad Usman melanjutkan kembali pengumumannya, sekarang beliau akan mengumuman santri teladan tahun 2012, prestasi yang direbutkan oleh 3 angkatan ini diambil satu dari yang terbaik tidak heran kalau prestasi ini ditunggu-tunggu oleh semua santri
“untuk santri teladan untuk tahun ini diraih oleh Kamila Etna Larasati Mahera dari tingkat satu”ujar Ustad Usman dengan dibarengi tepuk tangan yang meriah dari semua santri.
Semua santri menyambut meriah pengumuman dari Ustad Usman, mereka bertanya-tanya siapakah gadis yang bernama Kamila Etna larasati mahera itu sehingga bisa mendapatkan penghargaan sebagai santri teladan.Aku menjadi penasaran dengan gadis berkacamata tersebut,jika dilihat dia memang mempunyai daya tarik yang berbeda dengan gadis lain perawakan yang sederhana dan murah seyum itu membuat dirinya lebih special tidak hanyal banyak santri yang menaruh harapan kepada dia, termasuk aku pada pandangan pertama.
Pengumuman pun selesai, para santri kembali lagi ke asrama masing-masing, Aku, ahmad dan Ujang lebih memilih untuk pergi ke kantin sekolah.
“Ahmad, Ujang. Kalian kenal tidak dengan gadis yang dapat gelar santri teladan itu?”tanyaku penasaran kepada mereka.
“ya kenallah wan”jawab mereka bersama
“wah, yang bener kalian. Kalian pada kenal dengan dia?”sambungku dengan semangat
“ya udah saya ceritakannya, namanya kamila etna larasati mahera kita sering memanggilnya etna, dia itu satu ekskul dengan saya di ekskul Hafidz Quran, orangnya baik dan shalehah dia juga sudah hafal lebih dari saya kalau tidak salah udah 15 juz, tidak heran sih untuk orang yang mau melanjutin study ke Al-Azhar University Cairo”jelas Ahmad kepadaku
“memang ada apa wan, tumben kamu Tanya-tanya tentang wanita?”Tanya ahmad heran
“aha, ini sinyal mad kalau si Ridwan suka sama etna”lanjut Ujang sambil makan gorengannya
“ah ini si ujang sembarangan kalau menyimpulkan”ucapku dengan sedikit malu
“eh ujang udah, biarkan aja si Ridwan juga manusia dia punya perasaan, biarkan maniak Descartes ini jatuh cinta kepada gadis yang bernama etna itu”gurau ahmad kepada kami berdua
Kami pun menyudahi perbincangan di kantin itu, kami langsung beranjak pergi ke asrama untuk istirahat, Aku merasa beruntung punya teman seperti ahmad dan ujang, merekalah yang membuat aku betah tinggal di penjara suci ini.
Kehadiran etna dalam hidupku menjadikan jalan kehidupan di penjara ini sedikit berubah, tidak tahu kenapa aku menjadi suka melamunkan dirinya. Gadis berkaca mata itu menjadi lebih anggun dibalut kerudung panjang yang indah, penampilan yang sederhana itu menjadi lebih menarik dibandingkan gadis sekarang yang lebih mementingkah style. Kehadiran etna dalam hatiku menjadikan hiasan baru untuk menempuh tahun keduaku di penjaran ini.
Ajaran tahun baru sudah dimulai kembali, para santri yang pulang kerumah masing-masing sudah kembali lagi ke Asrama. Aku, Ahmad dan Ujang memutuskan untuk tidak pulang kerumah dan lebih memilih untuk berlibur di Asrama. Para santri dari angkatan 2 dan 3 yang masuk kedalam 10 santri berprestasi diminta oleh pak kiyai untuk dijadikan paniti Ta’aruf Santri untuk membantu OSIS, saran dari Ahmad dan Ujang, aku dimasukan  sebagai seksi dokumentasi, ujang sebagai seksi displin dan Ahmad sebagai Humas.
Rapat panitia pun langsung dilaksanakan malamnya, rapat perdana dilaksanaka di Aula Mumtaza. Rapat pertama itu lebih memfokuskan kedalam acara dan aku sudah bekerja pada rapat pertama itu, aku langsung mengambil momen rapat perdana itu, seksi acara yang di koordinatori oleh Etna menjadi bagian penting pada acara malam itu, konsep acara taarufnya begitu memukau semua panitia, dia memang cerdas dan semua orang mengakuinya.
“memang etna bener-bener hebat”gumamku dalam hati sambil mengarahkan kamera kearahnya
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan sebagai dokumentasi untuk mengambil fhoto-fhotonya ketika rapat.
3 minggu semua panitia melakukan rapat, semua kebutuhan sudah dipersiapkan dan pelaksanan pun akan dilaksanakan keesokan harinya, semua panitia bekerja secara professional dan sesuai dengan tugasnya. Ahmad terlihat sudah lebih mahir saat mengobrol dengan pemateri, Ujang menjadi panitia yang paling disiplin dan mendapat predikat kakak tergalak, yang menjadi primadona dalam acara taaruf itu adalah Etna, dia yang menjadi MC setiap acara di taaruf tersebut. Aku tidak pernah menyia-nyiakan kesempatanku untuk mengambil gambar dirinya ketika berbicara di depan peserta. Akhirnya pelaksanaan taaruf santri berakhir dengan baik, kita mendapatkan pujian dari pak Kiayi dalam pelaksanaannya.
Pembelajaran tahun baru akhirnya, aku sekarang sudah kelas XI dan jurusan yang aku ambil adalah IPA, Ahmad dia lebih memilih jurusan IAI dan Ujang di memilih jurusan Bahasa. Kita masih satu kamar dan tidak ada yang berubah dari mereka. Aku segera ingin mengetahui etna dia memilih jurusan apa, aku, Ahmad dan ujang langsung pergi menuju kantor TU untuk melihat papan pengumuman disana sudah tertempel nama-nama santri dan kelasnya.
“kamila etna, dimananya kelasnya”pikirku dalam hati sambil melihat daftar nama dan kelasnya
“Ridwan, Etna satu kelas dengan saya” ujar Ujang
“wah yang bener jang, hmm kelas bahasanya?”sambutku dengan sontak
“jelaslah kalau dia ngambil jurusan bahasa, karena diakan ingin melanjutkan study di Al-Azhar University jadi ngambil jurusan bahasa agar bisa lebih mendalami bahasa arabnya”jelas Ahmad
Dari penjelasan ahmad, aku menjadi sadar bahwa aku ada di ponpes ini tanpa tujuan, etna telah mengajarkan kepadaku untuk mempunyai tujuan. Lalu apa tujuanku ada disini dan niatku apa untuk ada disini.
“aku harus punya tujuan dari sini”pikirku dalam hati
“oke teman-teman, kita siap untuk menghadapi ajaran tahun ini!”ajakku kepada mereka
“oke kita siap”terik mereka berdua.

0 komentar:

Posting Komentar