CINTA SUCI DI PENJARA SUCI
( Ridwan Setiawan )
Akhirnya jadi juga kepindahanku ke kota cianjur, kota kecil yang
berada di sebelah barat bandung ini memberikan kesan yang indah pada pandangan
pertama. Kota yang dibatasi oleh sungai citarum ini memberikan kesan nyaman dan
tenang. Beda sekali dengan tempat tinggalku yang hanya mengambarkan keangkuhan
dan keegoisan kepada setiap individu, tidak memberikan kesan yang ramah kepada
setiap orang yang ada didekatnya. Ini pula yang menjadikan alasan untuk menerima
tawaran nenekku untuk pindah ke kota cianjur, tidak apa-apa aku harus
meninggalkan gemerlap kota bandung yang penuh dengan kesan eksotis, keramaian
dan gemerlap malam kota bandung.
Bis Doa ibu melaju kencang menusuri jalan raya bandung, tidak lepas
fanorama keindahan alam yang menghiasi pinggir jalan, aku beserta nenekku duduk
di kursi berdua diurutan ketiga dari depan sehingga dari tempat duduk itu
terlihat bagian depan bis Doa ibu tersebut.
“inilah cu, tempat nenek tinggal tempat nenek dan ibumu dilahirkan,
kota kecil dengan gunung gede sebagai symbol kebesarannya” jelas nenek sambil
memandang pemandangan dari jendela.
Aku kurang begitu hafal dengan kota ini, terasa asing bagiku yang
semenjak lahir aku hanya tahu kota bandung dan tidak pernah berkunjung ke kota
lain termasuk cianjur. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh nenekku, yang aku
tahu adalah aku akan tinggal dengan nenekku dan bersekolah di tempat nenek dan
ibuku dulu belajar.
Tidak
terasa, Bis pun berhenti di terminal rawa bango, terminal yang terlihat sepi
ini hanya menjadikan tempat persinggahan sesaat oleh para pengendara bis kota.
Tidak ada satu pun bis yang sengaja diam diterminal ini. Kumuh dan kotor yang
menggambarkan terminal ini.
“cu,
hayu turun kita udah sampai” ajak nenek kepadaku
“oh
udah sampainya ne, kok tempatnya aneh gini nek” tanyaku heran dengan keadaan
terminal tersebut.
Nenekku
tidak terlalu berkomentar dengan ucapan yang aku lontarkan kepada nenekku tadi,
langsung nenekku berjalan menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari terminal
itu, aku tidak tahu kalau nenekku akan mendaftarkan aku kesekolah yang mana,
yang jelas aku disuruh oleh ibuku untuk menuruti segala perintah nenekku.
“cu,
inilah sekolah yang nenek dan ibumu belajar dulu” jelas neneku sambil menunjuk
kepada papan nama sekolah
“
SMA Terpadu nek?” jawabku heran
“
iya cu, sekarang sekolah ini udah bagus dan udah berjalin kerja sama dengan
timur tengah dan fasilitasnya juga udah baik” jelas nenekku sambil berjalan
masuk kedalam gerbang
“ah,
SMA Terpadu kirain SMA yang udah internasional, masa jauh-jauh pindah dari
bandung hanya untuk sekolah di sekolah ini nek” ujarku kepada nenekku.
Nenekku
hanya terseyum mendengar ucapanku, dia seperti tidak mengganggap ucapanku dan
seperti mewajarkan apa yang telah aku katakan.
Aku
pun di ajak oleh nenekku masuk ke dalam kantor sekolah, terlihat tulisan dari
karton yang tertulis penerimaan santri baru. Terdengar lucu olehku karena aku
tidak pernh niat ingin menjadi santri, lebih baik kalau aku tetap tinggal di
bandung dan masuk ke SMA Negeri 3 bandung, udah jelas secara kualitas dan
fasilitas. Tapi kenapa ibu dan neneku mengajakku untuk melanjutkan disekolah
ini di SMA Terpadu.
Bulan
pertama aku tidak bisa menikmati suasana belajar di sekolah ini, tidak ada
hasrat untuk belajar. Kegemaranku terhadap Ilmu matematika dan fisika seperti
tidak berkembang disekolah ini. Sekolah yang lebih mempioritaskan ilmu agama
tersebut lebih banyak mempelajari kitab-kitab tradisional. Kejenuhanku sedikit
terobati ketika aku bergaul dengan teman-teman sekamarku, aku tinggal dikamar
yag berukuran 4x6 dengan beranggotakan 4 orang termasuk aku, mereka sudah aku
anggap keluarga sendiri, Ahmad dan Ujang, mereka adalah teman baiku, ahmad yang
berasal keluarga Ustad pemilik pesantren yang terkenal di Sukabumi itu memiliki
hobi menulis, tidak hayal aku pun menjadi langganan cerpen-cerpen dia. Ujang,
teman satuku ini adalah anak dari seorang Bos Pete di cianjur, dialah yang
menjadikan kamar ini bau dengan petenya dia yang mempunyai hobi nonton FTV ini
mempunyai cita-cita menjadi Produser FTV islami. Merekalah yang selalu
menemaniku dalam mengarungi kehidupan di penjara ini.
Aku
termasuk santri yang tidak terlalu di sekolah, banyak teman-temanku baru bulan
pertama sudah masuk kedalam ekstrakulikuler sekolah, banyak yang merapat juga
dengan eksul lain, dirata-rata setiap santri angkatanku mengikuti 2 eksul. Aku
suka heran bagaimana mereka bisa membagi waktu dengan sekolahnya kalau waktu
mereka habiskan hanya untuk berkumpul dan rapat, sungguh aneh mereka. Sama
halnya dengan Ahmad dan Ujang, mereka sama denganku tidak mengikuti eksul
disekolah tapi mereka berdua bisa dibilang santri yang bisa langsung berbaur,
tidak hanyal mereka sampai bisa kenal satu angkatan baik santri perempuan dan
santri laki-laki.
“hei
wan, kamu mau diam terus dikamar?mainlah keluar berbaur dengan teman yang
lain.”ajak Ahmad sambil mengambil buku catatannya.
“ah
males mad, pastinya yang diobrolin pastinya tentang kitab gundul lagi kalau
tidak tentang santriwati”jawabku sambil menutup diri dengan selimut.
“hmmm…iya
udah kalau kamu mau jadi sleapman.hahaha. oh ya wan, ngomong-ngomong si Ujang
kemananya?”Tanya ahmad heran
“aduh
ini si Ahmad, udah sana pergi mau tidur nih, si ujang lagi di warung si Ibi
lagi liat FTV disana” ujarku dengan kesal.
“oke,
selamat tidurnya dede bayiku sayang”ledek ahmad kepadaku
Aku
pun langsung lempar ahmad dengan bantal bunga-bunga kesayanganku kearah si
ahmad, dia pun dengan cekatan bisa menangkis tembakan meriam andalanku.
“eits,
gak kena-kena” ledek ahmad kepadaku.
Satu
tahun telah aku lalui, aku masuk dalam sepuluh besar santri yang berprestasi
walaupun jika melihat dari hasil raport, aku tertolong dengan mata pelajaran
umumku, tapi ada perubahan yang aku dapat setelah menjalani satu tahun di
penjara ini, aku menjadi senang belajar tafsir Shahih Muslim, tidak tahu kenapa
alasannya tapi aku menjadi suka dengan pengajian itu.
Ahmad
tetap menjadi santri No 1, dia sudah hafal 10 Juz dalam Al-Quran tidak heran
dia yang ingin menjadi cendikiawan ini siang malam dia selalu menambah
hafalanya tidak ketinggalan aku dan Ujang pun ikut belajar dari dia. Dari hasil
kami bertiga, Ujanglah yang paling jelek malahan dia masuk dalam urutan 10
besar santri terbawah, tapi jangan salah dia mempunyai bakat yang lain, selama
setahun disini dia sudah membuat 10 teks naskah drama dan 3 diantaranya dipakai
oleh eksul teater dan teater di DKC, aku bisa melihat kalau Ujang berbakat
menjadi seorang penulis naskah dan juga sutradara yang hebat.
Pengumuman
pun dimulai, kita semua dipanggil satu per satu sesuai dengan peringkat yang
kami dapat, aku mendapatkan pringkat kelima dan Ahmad menjadi santri pertama
yang dipanggil sama Ustad Usman dan menjadikan Ahmad santri terbaik angkatan
aku.
“memang
hebat Ahmad, dia menjadi santri terbaik di tahun pertamanya”ujarku dalam hati
Ustad
Usman melanjutkan kembali pengumumannya, sekarang beliau akan mengumuman santri
teladan tahun 2012, prestasi yang direbutkan oleh 3 angkatan ini diambil satu
dari yang terbaik tidak heran kalau prestasi ini ditunggu-tunggu oleh semua
santri
“untuk
santri teladan untuk tahun ini diraih oleh Kamila Etna Larasati Mahera dari
tingkat satu”ujar Ustad Usman dengan dibarengi tepuk tangan yang meriah dari
semua santri.
Semua
santri menyambut meriah pengumuman dari Ustad Usman, mereka bertanya-tanya
siapakah gadis yang bernama Kamila Etna larasati mahera itu sehingga bisa
mendapatkan penghargaan sebagai santri teladan.Aku menjadi penasaran dengan
gadis berkacamata tersebut,jika dilihat dia memang mempunyai daya tarik yang
berbeda dengan gadis lain perawakan yang sederhana dan murah seyum itu membuat
dirinya lebih special tidak hanyal banyak santri yang menaruh harapan kepada
dia, termasuk aku pada pandangan pertama.
Pengumuman
pun selesai, para santri kembali lagi ke asrama masing-masing, Aku, ahmad dan
Ujang lebih memilih untuk pergi ke kantin sekolah.
“Ahmad,
Ujang. Kalian kenal tidak dengan gadis yang dapat gelar santri teladan
itu?”tanyaku penasaran kepada mereka.
“ya
kenallah wan”jawab mereka bersama
“wah,
yang bener kalian. Kalian pada kenal dengan dia?”sambungku dengan semangat
“ya
udah saya ceritakannya, namanya kamila etna larasati mahera kita sering
memanggilnya etna, dia itu satu ekskul dengan saya di ekskul Hafidz Quran,
orangnya baik dan shalehah dia juga sudah hafal lebih dari saya kalau tidak
salah udah 15 juz, tidak heran sih untuk orang yang mau melanjutin study ke
Al-Azhar University Cairo”jelas Ahmad kepadaku
“memang
ada apa wan, tumben kamu Tanya-tanya tentang wanita?”Tanya ahmad heran
“aha,
ini sinyal mad kalau si Ridwan suka sama etna”lanjut Ujang sambil makan
gorengannya
“ah
ini si ujang sembarangan kalau menyimpulkan”ucapku dengan sedikit malu
“eh
ujang udah, biarkan aja si Ridwan juga manusia dia punya perasaan, biarkan
maniak Descartes ini jatuh cinta kepada gadis yang bernama etna itu”gurau ahmad
kepada kami berdua
Kami
pun menyudahi perbincangan di kantin itu, kami langsung beranjak pergi ke
asrama untuk istirahat, Aku merasa beruntung punya teman seperti ahmad dan
ujang, merekalah yang membuat aku betah tinggal di penjara suci ini.
Kehadiran
etna dalam hidupku menjadikan jalan kehidupan di penjara ini sedikit berubah,
tidak tahu kenapa aku menjadi suka melamunkan dirinya. Gadis berkaca mata itu
menjadi lebih anggun dibalut kerudung panjang yang indah, penampilan yang
sederhana itu menjadi lebih menarik dibandingkan gadis sekarang yang lebih
mementingkah style. Kehadiran etna dalam hatiku menjadikan hiasan baru untuk
menempuh tahun keduaku di penjaran ini.
Ajaran
tahun baru sudah dimulai kembali, para santri yang pulang kerumah masing-masing
sudah kembali lagi ke Asrama. Aku, Ahmad dan Ujang memutuskan untuk tidak
pulang kerumah dan lebih memilih untuk berlibur di Asrama. Para santri dari
angkatan 2 dan 3 yang masuk kedalam 10 santri berprestasi diminta oleh pak kiyai
untuk dijadikan paniti Ta’aruf Santri untuk membantu OSIS, saran dari Ahmad dan
Ujang, aku dimasukan sebagai seksi
dokumentasi, ujang sebagai seksi displin dan Ahmad sebagai Humas.
Rapat
panitia pun langsung dilaksanakan malamnya, rapat perdana dilaksanaka di Aula
Mumtaza. Rapat pertama itu lebih memfokuskan kedalam acara dan aku sudah
bekerja pada rapat pertama itu, aku langsung mengambil momen rapat perdana itu,
seksi acara yang di koordinatori oleh Etna menjadi bagian penting pada acara
malam itu, konsep acara taarufnya begitu memukau semua panitia, dia memang
cerdas dan semua orang mengakuinya.
“memang
etna bener-bener hebat”gumamku dalam hati sambil mengarahkan kamera kearahnya
Aku
tidak menyia-nyiakan kesempatan sebagai dokumentasi untuk mengambil
fhoto-fhotonya ketika rapat.
3
minggu semua panitia melakukan rapat, semua kebutuhan sudah dipersiapkan dan
pelaksanan pun akan dilaksanakan keesokan harinya, semua panitia bekerja secara
professional dan sesuai dengan tugasnya. Ahmad terlihat sudah lebih mahir saat
mengobrol dengan pemateri, Ujang menjadi panitia yang paling disiplin dan
mendapat predikat kakak tergalak, yang menjadi primadona dalam acara taaruf itu
adalah Etna, dia yang menjadi MC setiap acara di taaruf tersebut. Aku tidak
pernah menyia-nyiakan kesempatanku untuk mengambil gambar dirinya ketika
berbicara di depan peserta. Akhirnya pelaksanaan taaruf santri berakhir dengan
baik, kita mendapatkan pujian dari pak Kiayi dalam pelaksanaannya.
Pembelajaran
tahun baru akhirnya, aku sekarang sudah kelas XI dan jurusan yang aku ambil
adalah IPA, Ahmad dia lebih memilih jurusan IAI dan Ujang di memilih jurusan
Bahasa. Kita masih satu kamar dan tidak ada yang berubah dari mereka. Aku
segera ingin mengetahui etna dia memilih jurusan apa, aku, Ahmad dan ujang
langsung pergi menuju kantor TU untuk melihat papan pengumuman disana sudah
tertempel nama-nama santri dan kelasnya.
“kamila
etna, dimananya kelasnya”pikirku dalam hati sambil melihat daftar nama dan
kelasnya
“Ridwan,
Etna satu kelas dengan saya” ujar Ujang
“wah
yang bener jang, hmm kelas bahasanya?”sambutku dengan sontak
“jelaslah
kalau dia ngambil jurusan bahasa, karena diakan ingin melanjutkan study di
Al-Azhar University jadi ngambil jurusan bahasa agar bisa lebih mendalami
bahasa arabnya”jelas Ahmad
Dari
penjelasan ahmad, aku menjadi sadar bahwa aku ada di ponpes ini tanpa tujuan,
etna telah mengajarkan kepadaku untuk mempunyai tujuan. Lalu apa tujuanku ada
disini dan niatku apa untuk ada disini.
“aku
harus punya tujuan dari sini”pikirku dalam hati
“oke
teman-teman, kita siap untuk menghadapi ajaran tahun ini!”ajakku kepada mereka
“oke
kita siap”terik mereka berdua.
RSS Feed
Twitter
16.49
Ridwan Setiawan
0 komentar:
Posting Komentar