Daun Kering Kemenangan
Ridwan Setiawan
Bulan ramadhan yang tinggal menghitung hari sudah mulai
memperlihatkan cahaya kemenangannya, aku melihat orang-orang sibuk untuk bisa
memperingati hari kemenangan. Hari kemenangan, aku tidak tahu apa yang menjadi
tanda kemenangan itu, setiap orang begitu berhasratnya merayakan dengan membeli
baju yang mahal dan mewah, membeli kue yang lezat yang mungkin mereka beli
khusus untuk hari kemenangan tersebut.
Aku mengetahui hari kemenangan itu adalah hari dimana umat muslim
sebulan lamanya menahan dari segala yang membatalkan, baik secara lahiriah atau
batiniyah. Shaum yang mengajarkan kepada kita untuk bisa menahan segala bentuk
amarah dan dengki, memberikan kepekaan kepada masyarakat dan memberikan
pelatihan memberi kepada orang miskin, tapi kenapa sulit aku melihat orang yang
sudah melakukan itu, bukan kepada orang lain tetapi diriku sendiri.
Diselasar mesjid aku sering melihat fenomena-fenomena menarik yang
bisa aku ambil hikmahnya, hampir sebulan lamanya aku sering duduk diselasar mesjid
ini, aku ingin sekali merasakan bagaimana berpuasa di lingkungan mesjid, akan
kebingungan yang aku sering datang, aku tahu bahwa untuk bisa menjalankan
ibadah puasa ini sulit jika kalau dikerjakanya secara asal-asalan, dengan
melihat orang-orang sibuk mencari baju untuk mereka pakai kelak di hari
lebaran,seakan mereka lupa akan bagaimana sebenarnya tujuan kemenangan
tersebut.
Yang
menjadi daya Tariku selama aku duduk di selasar mesjid adalah bagaimana
kehidupan pengemis yang selalu duduk di halaman rumput mesjdi, bermodalkan
mangkok yang sedikit bolong, baju kucel yang kotor dengan menggendong bayi
kecil yang tidak berdosa. Aku tidak habis pikir kenapa ibu itu tega membawa
bayi yang masih usia menyusui untuk ikut beserta ibunya untuk meminta-minat, apakah
bayi itu hanya dijadikan alat pemuas kasih sayang semua orang yang ada
disekitar mesjid.
“
assalamulaikum” salamku kepada ibu pengemis itu
“walaikumsalam”
jawab ibu pengemis itu
Ibu
pengemis itu sedikit takut ketika aku mencoba untuk ngajak di ajak ngobrol, dia
seperti mengira bahwa aku akan mengusir dia dari halaman mesjid ini.
“jangan
takut bu, aku disini hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan saja”
“iya
boleh, mau Tanya apa nak tapi jangan lama-lama ibu harus cari uang lagi” jawab
ibu
“sudah
hampir satu bulan aku memperhatikan ibu dari selasar itu, apa yang ibu lakukan di
halaman mesjid ini?”tanyaku kepada ibu pengemis itu.
“ibu
hanya ingin mencari uang nak, ibu tidak bisa berbuat apa-apa disini. Cari kerja
susah nak tidak ada yang mau menerima ibu-ibu yang tua kaya ini, ibu hanya
ingin bisa memberikan makan kepada anak ibu ini” jawab ibu dengan nada yang
pelan
“memang
suami ibu kemana?”tanyaku lanjut
“suami
ibu, udah lama pergi. Dia kabur dari ibu untuk menikah lagi dan teganya dia
mengambil semua harta yang ibu punya”jawab ibu pengemis itu
Aku
semakin tidak sanggup untuk bertanya kembali kepada ibu tersebut, tapi ada satu
hal yang aku dapat ambil hikmahnya tidak semua orang dapat berbahagia untuk
menyambut hari kemenangan itu.
Aku
hanya bisa duduk termenung melihat orang-orang yang kesusahan untuk bisa
merasakan bagaimana meriahnya hari kemenangan, memang anggapan semua orang
hanya memandang bahwa untuk memperingati hari kemenangan ini harus dengan
memakai pakaian yang serba baru, tapi tidak kalau bisa memahami tujuan puasa di
bulan Ramdhan ini, yang bisa menikmati bagaimana kemenangan yang sebenarnya.
Seperti halnya daun kering yang menempel pada tangkal yang tidak tahu kapan dia
akan jatuh atau tertiup yang tidak bisa
menikmati sejuknya kemenangan yang akan selalu menjadikan daun itu hijau
selalu.
RSS Feed
Twitter
16.45
Ridwan Setiawan
0 komentar:
Posting Komentar