Senin, 05 Agustus 2013


Daun Kering Kemenangan
Ridwan Setiawan

Bulan ramadhan yang tinggal menghitung hari sudah mulai memperlihatkan cahaya kemenangannya, aku melihat orang-orang sibuk untuk bisa memperingati hari kemenangan. Hari kemenangan, aku tidak tahu apa yang menjadi tanda kemenangan itu, setiap orang begitu berhasratnya merayakan dengan membeli baju yang mahal dan mewah, membeli kue yang lezat yang mungkin mereka beli khusus untuk hari kemenangan tersebut.
Aku mengetahui hari kemenangan itu adalah hari dimana umat muslim sebulan lamanya menahan dari segala yang membatalkan, baik secara lahiriah atau batiniyah. Shaum yang mengajarkan kepada kita untuk bisa menahan segala bentuk amarah dan dengki, memberikan kepekaan kepada masyarakat dan memberikan pelatihan memberi kepada orang miskin, tapi kenapa sulit aku melihat orang yang sudah melakukan itu, bukan kepada orang lain tetapi diriku sendiri.
Diselasar mesjid aku sering melihat fenomena-fenomena menarik yang bisa aku ambil hikmahnya, hampir sebulan lamanya aku sering duduk diselasar mesjid ini, aku ingin sekali merasakan bagaimana berpuasa di lingkungan mesjid, akan kebingungan yang aku sering datang, aku tahu bahwa untuk bisa menjalankan ibadah puasa ini sulit jika kalau dikerjakanya secara asal-asalan, dengan melihat orang-orang sibuk mencari baju untuk mereka pakai kelak di hari lebaran,seakan mereka lupa akan bagaimana sebenarnya tujuan kemenangan tersebut.
Yang menjadi daya Tariku selama aku duduk di selasar mesjid adalah bagaimana kehidupan pengemis yang selalu duduk di halaman rumput mesjdi, bermodalkan mangkok yang sedikit bolong, baju kucel yang kotor dengan menggendong bayi kecil yang tidak berdosa. Aku tidak habis pikir kenapa ibu itu tega membawa bayi yang masih usia menyusui untuk ikut beserta ibunya untuk meminta-minat, apakah bayi itu hanya dijadikan alat pemuas kasih sayang semua orang yang ada disekitar mesjid.
“ assalamulaikum” salamku kepada ibu pengemis itu
“walaikumsalam” jawab ibu pengemis itu
Ibu pengemis itu sedikit takut ketika aku mencoba untuk ngajak di ajak ngobrol, dia seperti mengira bahwa aku akan mengusir dia dari halaman mesjid ini.
“jangan takut bu, aku disini hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan saja”
“iya boleh, mau Tanya apa nak tapi jangan lama-lama ibu harus cari uang lagi” jawab ibu
“sudah hampir satu bulan aku memperhatikan ibu dari selasar itu, apa yang ibu lakukan di halaman mesjid ini?”tanyaku kepada ibu pengemis itu.
“ibu hanya ingin mencari uang nak, ibu tidak bisa berbuat apa-apa disini. Cari kerja susah nak tidak ada yang mau menerima ibu-ibu yang tua kaya ini, ibu hanya ingin bisa memberikan makan kepada anak ibu ini” jawab ibu dengan nada yang pelan
“memang suami ibu kemana?”tanyaku lanjut
“suami ibu, udah lama pergi. Dia kabur dari ibu untuk menikah lagi dan teganya dia mengambil semua harta yang ibu punya”jawab ibu pengemis itu
Aku semakin tidak sanggup untuk bertanya kembali kepada ibu tersebut, tapi ada satu hal yang aku dapat ambil hikmahnya tidak semua orang dapat berbahagia untuk menyambut hari kemenangan itu.
Aku hanya bisa duduk termenung melihat orang-orang yang kesusahan untuk bisa merasakan bagaimana meriahnya hari kemenangan, memang anggapan semua orang hanya memandang bahwa untuk memperingati hari kemenangan ini harus dengan memakai pakaian yang serba baru, tapi tidak kalau bisa memahami tujuan puasa di bulan Ramdhan ini, yang bisa menikmati bagaimana kemenangan yang sebenarnya. Seperti halnya daun kering yang menempel pada tangkal yang tidak tahu kapan dia akan jatuh atau tertiup   yang tidak bisa menikmati sejuknya kemenangan yang akan selalu menjadikan daun itu hijau selalu.

0 komentar:

Posting Komentar