Jejak kaki sang mata lensa (I)
Gunung manglayang seakan menidurkan keindahannya
dibalik selimut kabut putih
(Ridwan
Setiawan)
Alam
seperti membiuskan magnet yang kuat, daya tariknya kuat membuat hal yang tidak
bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kamera yang aku punya akan menangkap setiap
moment yang diberikan oleh alam.
Gunung
manglayang menunjukan keperkasaanya, pohon-pohon pinus memberikan hiasan kecil
gunung manglayang. Fanorama alam yang maha dasyat sudah aku rasakan ketika
melihat dari arah yang jauh.
“gunung
ini, akan aku abadikan sebagai moment penting dalam perjalan hidupku”pikirku
Perjalanan
hiking yang diadakan oleh komunitas EO Resonansi, pada dasarnya merupakan
kegiatan silaturahmi antara senior dan junior. Aku d i komunitas tersebut
merupakan anggota baru yang tidak tahu tujuan dari EO tersebut. EO resonansi
yang dipimpin oleh Imas telah memberikan produktifitasnya, EO bisnis dan fun
hobby ini telah mendirikan bisnis usaha konveksi yang dikelola langsung oleh
ima.
Sebagai
mahasiswa Unpad jurusan Ilmu kelautan dan perikanan, imas sudah terlihat cakap
dalam membawa bisnis konveksi tersebut agar bersaing dengan pasar konveksi.
Maklumlah untuk jenis bisnis tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan hampir
semua pernah mencoba dan membuat bisnis tersebut, tapi bagi Imas, memang bisnis
konveksi adalah bisnis pasaran tapi tidak semua kualitas sama disetiap konveski
dan aku akan memberikan kualitas No 1 jika ada yang memesan kepadanya.
Anggota
EO Resonanso ini terdiri dari berbagai Universitas, komunitas ini memang cocok
untuk menjadikan wadah dalam menjalin silaturahmi. Acara hiking yang
diselenggarakan oleh resonansi untuk tujuan tersebut.
“akang-akang
dan teteh hayu kita kumpul dulu sebentar sebelum pemberangkatan”teriak Imas
agar semoa anggota kumpul
“akang
teteh, sebelum berangkat ke tempat tujuan, mari kita awali acara ini dengan doa
bersama-sama agar perjalanan kita bisa sampai tujuan dengan selamat”
Doa
yang dipimpin langsung oleh imas berlangsung secara hikmat, terlihat kehusyuan
dari setiap wajah anggota yang tidak ada satu pun yang aku kenal.
“bagi
yang tidak membawa motor, boleh kalian ikut yang punya motor kita kesananya
kompoi aja jangan saling mendahului” ujar imas sambil mempersiapkan motornya.
Kami pun segera menyalakan motor masing-masing,
imas sebagai ketua komunitas mengawali perjalanan, motor beat dengan jaket
merahnya seakan menjadi tanda jalan yang dibuat menjadi arah.
Gunung
manglayang telah memperlihatkan kakinya, udara dingin telah merasuk kedalam
kulit. Pohon pinus menjadi penghijau dari tanah merah yang tersembunyi sehingga
menjadi daya tarik tersendiri dari mengarahkan kamera ke kaki gunung bukit
manglayang. Gerbang menuju gunung manglayang telah terlihat. Para pejuang
penaklu gunung manglayang telah melabuhkan kendaraan mereka, dihadapkan oleh
jurug kecil yang menambah asrat untuk menaklukan.
“hmm.
Inikah gunung manglayang”pikirku
Puncak
gunung yang telah tertutup kabut itu seakan menyembunyikan keindahannya dan
menidurkan dalam kelelapan abadi. Ada rahasia dibalik keagungan gunung
manglayang dan kamera ini yang akan menjadi saksi akan keindahan gunung
manglayang yang tertidur itu.
RSS Feed
Twitter
02.13
Ridwan Setiawan
0 komentar:
Posting Komentar