Sabtu, 12 Januari 2013


Jejak kaki sang mata lensa (I)
Gunung manglayang seakan menidurkan keindahannya dibalik selimut kabut putih
(Ridwan Setiawan)

 
Alam seperti membiuskan magnet yang kuat, daya tariknya kuat membuat hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kamera yang aku punya akan menangkap setiap moment yang diberikan oleh alam.
Gunung manglayang menunjukan keperkasaanya, pohon-pohon pinus memberikan hiasan kecil gunung manglayang. Fanorama alam yang maha dasyat sudah aku rasakan ketika melihat dari arah yang jauh.
“gunung ini, akan aku abadikan sebagai moment penting dalam perjalan hidupku”pikirku
Perjalanan hiking yang diadakan oleh komunitas EO Resonansi, pada dasarnya merupakan kegiatan silaturahmi antara senior dan junior. Aku d i komunitas tersebut merupakan anggota baru yang tidak tahu tujuan dari EO tersebut. EO resonansi yang dipimpin oleh Imas telah memberikan produktifitasnya, EO bisnis dan fun hobby ini telah mendirikan bisnis usaha konveksi yang dikelola langsung oleh ima.
Sebagai mahasiswa Unpad jurusan Ilmu kelautan dan perikanan, imas sudah terlihat cakap dalam membawa bisnis konveksi tersebut agar bersaing dengan pasar konveksi. Maklumlah untuk jenis bisnis tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan hampir semua pernah mencoba dan membuat bisnis tersebut, tapi bagi Imas, memang bisnis konveksi adalah bisnis pasaran tapi tidak semua kualitas sama disetiap konveski dan aku akan memberikan kualitas No 1 jika ada yang memesan kepadanya.
Anggota EO Resonanso ini terdiri dari berbagai Universitas, komunitas ini memang cocok untuk menjadikan wadah dalam menjalin silaturahmi. Acara hiking yang diselenggarakan oleh resonansi untuk tujuan tersebut.
“akang-akang dan teteh hayu kita kumpul dulu sebentar sebelum pemberangkatan”teriak Imas agar semoa anggota kumpul
“akang teteh, sebelum berangkat ke tempat tujuan, mari kita awali acara ini dengan doa bersama-sama agar perjalanan kita bisa sampai tujuan dengan selamat”
Doa yang dipimpin langsung oleh imas berlangsung secara hikmat, terlihat kehusyuan dari setiap wajah anggota yang tidak ada satu pun yang aku kenal.
“bagi yang tidak membawa motor, boleh kalian ikut yang punya motor kita kesananya kompoi aja jangan saling mendahului” ujar imas sambil mempersiapkan motornya.
 Kami pun segera menyalakan motor masing-masing, imas sebagai ketua komunitas mengawali perjalanan, motor beat dengan jaket merahnya seakan menjadi tanda jalan yang dibuat menjadi arah.
Gunung manglayang telah memperlihatkan kakinya, udara dingin telah merasuk kedalam kulit. Pohon pinus menjadi penghijau dari tanah merah yang tersembunyi sehingga menjadi daya tarik tersendiri dari mengarahkan kamera ke kaki gunung bukit manglayang. Gerbang menuju gunung manglayang telah terlihat. Para pejuang penaklu gunung manglayang telah melabuhkan kendaraan mereka, dihadapkan oleh jurug kecil yang menambah asrat untuk menaklukan.
“hmm. Inikah gunung manglayang”pikirku
Puncak gunung yang telah tertutup kabut itu seakan menyembunyikan keindahannya dan menidurkan dalam kelelapan abadi. Ada rahasia dibalik keagungan gunung manglayang dan kamera ini yang akan menjadi saksi akan keindahan gunung manglayang yang tertidur itu.