True Story
Karunia Bakti,
Bukti Pertemuan kita
Ridwan Setiawan
Dulu aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada
pandangan pertama, aku sering meragukan cinta itu, karena biasanya cinta pada
padangan pertama itu pada dasarnya adalah bentuk kepenasaran suatu perasaan
kepada seseorang yang baru dijumpai. Terkadang hal yang cepat muncul itu akan
menjadi tidak bermakna jika dalam menghadapinya dengan kekosongan. Tapi teori
yang aku pegang itu menjadi tidak berlaku ketika pertemuanku dengan gadis
berkeredung
pink itu.
Pada awalnya Aku sering tidak pernah mau naik Bis Karunia Bakti,
alasannya sih karena ongkosnya yang mahal dan sering ngetemnya itu yang buat
aku tidak menyukainya. Aku adalah mahasiswa salah satu Univesitas negeri di
Bandung, pada waktu itu aku berencana kembali ke bandung untuk mengisi KRS buat
semester depan, maklumlah dosen pembimbingku super sibuk bisa jadi sekarang dia
di bandung besoknya sudah di kota lain bisa di Aceh, Palembang makasar dan
tempat-tempat yang lain, makanya aku tidak berpikir panjang untuk berangkat ke
Bandung, soalnya jika tidak hari esok entah hari apa lagi aku bisa bimbingan,
aku tinggal di Kab Cianjur lumayan jarak cianjur dengan bandung berkisar kurang
lebih 2-3 jam maka aku putuskan untuk berangkat ke bandung sore hari.
Sorenya, aku bersiap berangkat menuju bandung, sebenarnya aku sudah
telat 1 jam untuk berangkat jika aku berharap bisa naik Bis Doa Ibu jurusan
Tasik Jakarta yang terkenal super murah dan cepatnya, “tidak apa-apalah Karunia
bakti juga” pikirku ketika aku sambil melihat jam HP Siemens A55ku yang
menunjukan jam 16:30 WIB.
“mana lagi itu bis lama banget!” kesalku ketika lama menunggu Bis
yang jurusan Cileunyi. Aku menunggu datangnya bis di terminal Pasir hayam atau
lebih di kenal dengan Jebrod kebetulan aku dekat dengan terminal ini, cianjur
memilki 2 terminal sebenarnya yaitu terminal Pasir hayam dan terminal
Rawabango, nantinya Bis yang akan mengarah ke Bandung pasti akan berhenti dulu
di dua terminal itu.
Berapa menit
kemudian munculah bis Karunia Bakti jurusan Jakarta Garut itu, dengan dibarengi
terik sang kondektor yang nyaring sehingga dari jarak yang jauh sudah terdengar
kerasnya.
“
CILEUNYI-CILEUNYI!!” teriak kondektor itu
“PAK BERHENTI,
AKU MAU IKUT” teriaku untuk bisa memberhentikan Bis itu
“Cileunyi pak?”
tanyaku
“ iya de, ini
arah cileunyi”
“kalau ke
cileunyi ongkosnya berapa?” tanyaku kepada kondektor itu,
katanya kalau
naik Bis ini ongkosnya sering berubah-berubah kadang-kadang 12 rebu,
kadang-kadang bisa jadi 15 rebu.
“ 15 rebu “
jawab kondektor dengan dingin
“ iya mahal
pak, biasanya juga 12 rebu masa naik gini, kemarinkan masih 12 rebu kenapa
sekarang 15 rebu”
“ya udah mana
uangnya” dengan sedikit kesal kondektor pun pergi menuju penumpang yang lain.
Aku memilih duduk di kursi dua dan posisiku lumayan ditengah-tengah
bis, aku sering duduk yang kursi berdua itu biar nyaman aja, karena kalau yang
kursi tiga itu kurang nyaman biasanya duduknya yang tidak bisa teratur.
Aku duduk bersama seorang ibu-ibu, kelihatan dari wajahnya ibu ini
lagi sakit dengan terlihat dari murat wajahnya yang pucat dan lingkaran matanya
yang hitam.
“Bu, Kursi ini
Kosong?” tanyaku kepada ibu itu
Ibu itu
langsung aja mempersilahkan Aku duduk tanpa mengatakan apa pun
“maaf ibu lagi
sakitnya” Tanyaku kepada ibu itu.
“iya dek, maaf
ya kalau nanti muntah” ujar ibu itu sedikit terseyum
Aku hanya
membalas dengan seyuman kepada ibu tersebut, bis pun segera berangkat
meninggalkan terminal Pasir Hayam,
Bis pun
berangkat, Bis ini akan berangkat menuju Terminal Rawabango, terminal kedua di
cianjur, biasanya di Rawabango penumpang akan lebih banyak soalnya Terminal itu
lumayan deket pusat kota.
“Baru Terminal
rawabango” gumamku
“ udah jam
17:30 WIB baru nyampe sini, jam berapa nyampe Bandung” kesal aku sambil melihat
sekitar-sekitar dalam bis.
Banyak yang masuk kedalam Bis itu di antaranya ada tentara yang
masuk Bis itu dengan pakaian lengkap militer, ada para pedangan asongan dan
terlintas aku melihat pemandangan yang tidak wajar, aku tertarik untuk melihat
salah satu sudut tempat duduk di arah belakang dengan tempat dudukku.
Terlihat tiga orang wanita duduk di bangku tiga belakangku, aku
perhatikan secara seksama kearah mereka, aku perhatikan kearah mereka dengan
sekali-kali mencuri pandangan ke salah satu wanita dari rombongan itu, mereka
datang bertiga yang satu memakai rok batik hitam dengan baju dan kerudung warna
biru, yang satu pakai celana jeans dan kaos dan yang satu ini yang membuat aku
tertarik seorang wanita dengan memakai rok hitam dan baju pola kemeja
kotak-kota warna pink putih dengan kerudung warna pink, terlihat untuk wanita
satu ini dia mememilih untuk diam saja di bandingkan teman-temannya yang lebih
banyak ngobrol.
Aku terus mencuri pandangan arah wanita yang mempunyai, wajah alami yang mengenakan hati, memberikan cahaya jiwa masuk
dalam sukma, memberi ketenangan ketika melihatnya.
“ ah siapa ya
gadis itu?” pikirku dalam hati
“lihat saja
jika memang aku jodoh sama dia suatu saat nanti aku pasti bisa kenal dengan
dia” tegasku dengan begitu yakin.
Udah satu jam perjalanan menuju bandung, keadaan di dalam bis lebih
banyak sepinya terlihat para penumpang lebih banyak menghabiskan tidur dalam
menempuh perjalanan ini, maklum jam sudah menunjukan 19:00 WIB. Tidak seperti
biasanya perjalanan sangat lambat,
biasanya dalam waktu satu jam bis selalu sudah berada di gerbang Tol
padalarang, tapi kali ini beda,
sampai saat ini Bis baru nyampe cipatat. Rute cipatat yang berbelok-belok dan
menanjakan menjadikan kendala sendiri sehingga pergerakan bis agak sedikit
lambat dengan beban bis yang melebihi batas maksimalnya.
Untuk mengisi
waktu, biasanya aku sering melihat keadaan di dalam bis, ya untuk sekedar iseng
aku suka melihat ekspresi wajah setiap penumpang, ada yang wajahnya tegang, ada
yang sedih ada yang penuh dengan beban, hal ini bisa dilihat dari murat wajah
dari orang-orang tersebut,hal ini sering aku lakukan jika aku berada di keramaian,
aku selalu ingin mengetahui perasaan seorang dengan hanya melihat wajahnya,
sesekali aku mencuri pandangan kepada gadis berkerudung pink itu, terlihat dia
lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku, lebih lihat seksama buku
yang dia baca adalah buku Bumi Cinta karya habiburahman el sirazy, dia begitu
serius membaca buku itu dan memang isi buku itu bagus sekali karena berisi
perjuangan seorang santri di negeri Rusia yang terkenal dengan Seks bebasnya.
Karena terlalu asyik melihat gadis itu tidak di sadari aku diperhatikan juga
oleh gadis itu, sedikit mengadu mata yang seakan memberikan tanda perkenalan
aku pun berusaha untuk bisa tetap mengendalikan hasrat ini.
“aduh aduh,
uuuoooo” terdengar seorang lagi muntah
“ wah ibu!!”
teriakku kepada ibu-ibu yang duduk di samping aku
“ aduh maaf
ade! ibu tidak kuat, punya kantong plastik” Tanya ibu itu dengan nada yang
sudah melemah.
Aku pun
langsung berdiri untuk mengambil kantong plastic yang ada di tas aku, karena
kaget aku jadi lupa menyimpan kantong itu dimana,
tiba-tiba.
“gubrak!, suara
apa itu? Tanyaku heran ketika sibuk mencari kantong plastik yang lupa menyimpannya.
Ketika kantong
plastik sudah aku temukan, aku tidak sadar kalau posisi ibu itu sudah jatuh
kebawah.
“IBU-IBU
BANGUN!” teriakku ketika aku tahu kalau suara itu berasal dari tubuh Ibu yang
terjatuh karena pingsan.
posisi yang
jatuh kebawah menjadi perhatian penumpang yang lainnya, mereka terlihat
keheranan dengan keadaan ibu itu. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung mengangkat
tubuh ibu ke kursi. Aku angkat tubuh ibu itu seperti duduk dengan kepala yang
aku sengajakan menyender ke bahu ku, Aku jadi pusat perhatian, tapi sayang
tidak ada satu penumpang pun yang mau membantu aku untuk merawat ibu ini,
mungkin mereka mengira bahwa ibu ini adalah ibu kandungku tapi tidak ada kepekaan dalam hati para
penumpang ini melihat orang yang lagi mendapatkan musibah, mungkin ini yang
namanya hati yang beku itu.
Aku pun menjadi
semakin bingung ketika ibu itu jatuh pingsan, tidak ada bisa yang aku lakukan aku
yang dulu di SMA sering mengukuti kegiatan PMR pun tidak ada yang bisa Aku
lakukan, yang bisa aku lakukan hanya mengolesin tangan Ibu itu dengan minyak
telon.
“ maaf ka, ada
yang bisa saya bantu?”terdengar suara
dari belakang.
Saat aku
melihat ternyata dibelakang sudah ada gadis yang berkerudung pink itu mendekat
menghampiriku.
“heu..iya bisa”
jawabku dengan sedikit gugup setelah melihat dia
“ kenapa ka
dengan ibunya?” Tanya dia heran
“ kurang tahu,
tadi sih aku mau ngambil kantong buat ibu ini karena tadinya ibu ini muntah, eh
tahu-tahunya dia jadi pingsan” jawabku sambil terus memijit-mijit bahu ibu itu.
“memang awalnya
bagaimana ka?”lanjut gadis itu.
“ awalnya sih
dia memang bilang sakit dan memang dari pas pemberangkatan dia udah kelihatan
pucat”.
“ ya udah ka
kalau gitu, mungkin aku bisa ikut merawatnya” tegas gadis itu begitu mantapnya.
Akhirnya kita
berdua bertukaran tempat duduk, aku menjadi duduk bersama teman-temanya di
belakang, lalu gadis itu duduk di tempat dudukku dengan terus merawat ibu yang
sedang sakit itu.
Dari arah belakang, aku terus memperhatikan kasih sayang
wanita itu ibu itu terlihat nyaman berada menyender dibahu gadis itu seperti
bayi yang berada didalam pelukan ibunya yang haus akan kasih sayang seorang
ibu.
Bis sudah
memasuki tol padalarang, belum terlihat tanda-tanda ibu itu akan sehat, ada
kekhawatiran tersendiri dalam diriku, aku merasa ibu itu menjadi tanggung
jawabku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Malu aku sebagai seorang laki-laki
yang tidak bisa menjaga atau melindungi wanita yang ada disebelahku.
“ka, kok serius
sekali melihat ibu itu”tanya gadis yang duduk disebelahku
“oh tidak,
cuman kagum aja sama gadis itu kok mau mauanya dia merawat ibu tua yang dia
tidak kenal”jawabku sambil tetap memperhatikan kearah ibu itu.
“oh wajar sih
ka, dia kan kuliahnya di kebidanan sudah biasa dia merawat-rawat seperti
itu”jawab gadis itu kembali
“oh gadis
berkerudung pink itu mahasiswa kebidanan ya, tapi aku malu untuk menanyakan
yang lebih jelasnya”pikirku dalam hati
Kami pun menjadi
saling diam lagi, kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua teman gadis
berkerudung pink itu lebih banyak membaca buku dan main handpone.
12 KM lagi
menuju terminal cileunyi, ibu masih belum menampakan tanda-tanda akan siuman
aku jadi serba salah dengan keadaan yang aku hadapi.
“kakak!”terdengar
suara yang masuk kedalam telingaku ketika tidur
“oh de, ada
apa?”tanyaku sambil mengusap wajah yang terlihat bangun tidur
“ibu ini masih
belum siuman, kakak tahu rumah ibu ini dimana?”tanya gadis itu penasaran
“aduh de, ka
juga tidak tahu, bagaimana ya?”jawabku kebingungan
“kalau begitu,
di cileunyi ada rumah sakit bagaimana kalau kita bawa aja kesana”ujar gadis itu
“iya
boleh”ucapku tegas.
Beberapa menit
setelah aku dan gadis itu saling berbicara, ibu itu sudah mulai menampakan
kesehatan dalam dirinya.
“Allahuakbar”takbir
ibu tersebut
“aduh, maaf
ade-ade jadi merepotkan kalian”ucap ibu itu sambil lemas
“oh tidak
apa-apa kok”jawabku serempak dengan gadis itu
“ibu, kami
berencana mau membawa ibu untuk kerumah sakit soalnya ibu masih lemas”ujar
gadis itu dengan penuh perhatian
“tidak usah ibu
udah sehat kok”jawab ibu itu sambil menguatkan dirinya
“ibu tinggal
dimana, mungkin aku bisa mengantar ibu sampai tujuan”aku mencoba menawarkan
diri.
“tidak usah,
ibu tinggal di Majalaya udah dekat kok!”
Akhirnya ibu
tersebut telah sadar, tidak terasa kondektor sudah memberitahu bis ini sudah
sampai cileunyi. Ibu itu terlihat terseyum kepada kami berdua aku, aku menjadi
khawatir kepada ibu ini apakah dia baik-baik saja.
Aku dan
penumpang lainnya turun dari bis karuni bakti ini, cileunyi menampakan
kepadatannya bis-bis dari jurusan daerah lain secara bersamaan berhenti.
“terima kasih
ya, udah bantu aku ngurusin ibu yang sedang sakit itu”sapa aku kepada gadis
pink itu
“iya sama-sama,
aku juga terima kasih ke kakak udah menyadarkan aku dari sifat ketidak
pedulian”jawab dia rendah hati
Aku pun hanya
membalas dengan seyuman, wanita itu menjadi lambang kepedulianku tentang
membantu sesama.
“ka, aku pamit
dulu. Assalamualaikum”sambil berjalan kearah yang berlawan denganku
“walaikumsalam”jawabku
sambil berbalik badan.
Gadis itu pun
sudah tidak terlihat kembali, seakan tengelam oleh keramaian terminal cileunyi,
bis karunia bakti membuat kisah menarik, gadis kerudung pink itu pun menjadi
bagaian dari rangkaian kisah yang aku buat.
Aku pun naik
kedalam angkot, sambil menunggu angkot itu berjalan aku pun teringat kalau di
dalam tasku ada makanan ringan, saat aku buka tasku aku menemukan secarik
kertas kecil dari dalam tasku yang bertuliskan.
Kakak sepertinya suka dengan teman aku ya, namanya Nida Antika Sari
“Nida ternyata
namanya”ucapku dalam hati seiring berjalannya angkot jurusan caheum cileunyi.