Senin, 05 Agustus 2013


True Story
Karunia Bakti, Bukti Pertemuan kita
Ridwan Setiawan
Dulu aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama, aku sering meragukan cinta itu, karena biasanya cinta pada padangan pertama itu pada dasarnya adalah bentuk kepenasaran suatu perasaan kepada seseorang yang baru dijumpai. Terkadang hal yang cepat muncul itu akan menjadi tidak bermakna jika dalam menghadapinya dengan kekosongan. Tapi teori yang aku pegang itu menjadi tidak berlaku ketika pertemuanku dengan gadis berkeredung pink itu.
Pada awalnya Aku sering tidak pernah mau naik Bis Karunia Bakti, alasannya sih karena ongkosnya yang mahal dan sering ngetemnya itu yang buat aku tidak menyukainya. Aku adalah mahasiswa salah satu Univesitas negeri di Bandung, pada waktu itu aku berencana kembali ke bandung untuk mengisi KRS buat semester depan, maklumlah dosen pembimbingku super sibuk bisa jadi sekarang dia di bandung besoknya sudah di kota lain bisa di Aceh, Palembang makasar dan tempat-tempat yang lain, makanya aku tidak berpikir panjang untuk berangkat ke Bandung, soalnya jika tidak hari esok entah hari apa lagi aku bisa bimbingan, aku tinggal di Kab Cianjur lumayan jarak cianjur dengan bandung berkisar kurang lebih 2-3 jam maka aku putuskan untuk berangkat ke bandung sore hari.
Sorenya, aku bersiap berangkat menuju bandung, sebenarnya aku sudah telat 1 jam untuk berangkat jika aku berharap bisa naik Bis Doa Ibu jurusan Tasik Jakarta yang terkenal super murah dan cepatnya, “tidak apa-apalah Karunia bakti juga” pikirku ketika aku sambil melihat jam HP Siemens A55ku yang menunjukan jam 16:30 WIB.
“mana lagi itu bis lama banget!” kesalku ketika lama menunggu Bis yang jurusan Cileunyi. Aku menunggu datangnya bis di terminal Pasir hayam atau lebih di kenal dengan Jebrod kebetulan aku dekat dengan terminal ini, cianjur memilki 2 terminal sebenarnya yaitu terminal Pasir hayam dan terminal Rawabango, nantinya Bis yang akan mengarah ke Bandung pasti akan berhenti dulu di dua terminal itu.
Berapa menit kemudian munculah bis Karunia Bakti jurusan Jakarta Garut itu, dengan dibarengi terik sang kondektor yang nyaring sehingga dari jarak yang jauh sudah terdengar kerasnya.
“ CILEUNYI-CILEUNYI!!” teriak kondektor itu
“PAK BERHENTI, AKU MAU IKUT” teriaku untuk bisa memberhentikan Bis itu
“Cileunyi pak?” tanyaku
“ iya de, ini arah cileunyi”
“kalau ke cileunyi ongkosnya berapa?” tanyaku kepada kondektor itu,
katanya kalau naik Bis ini ongkosnya sering berubah-berubah kadang-kadang 12 rebu, kadang-kadang bisa jadi 15 rebu.
“ 15 rebu “ jawab kondektor dengan dingin
“ iya mahal pak, biasanya juga 12 rebu masa naik gini, kemarinkan masih 12 rebu kenapa sekarang 15 rebu”
“ya udah mana uangnya” dengan sedikit kesal kondektor pun pergi menuju penumpang yang lain.
Aku memilih duduk di kursi dua dan posisiku lumayan ditengah-tengah bis, aku sering duduk yang kursi berdua itu biar nyaman aja, karena kalau yang kursi tiga itu kurang nyaman biasanya duduknya yang tidak bisa teratur.
Aku duduk bersama seorang ibu-ibu, kelihatan dari wajahnya ibu ini lagi sakit dengan terlihat dari murat wajahnya yang pucat dan lingkaran matanya yang hitam.
“Bu, Kursi ini Kosong?” tanyaku kepada ibu itu
Ibu itu langsung aja mempersilahkan Aku duduk tanpa mengatakan apa pun
“maaf ibu lagi sakitnya” Tanyaku kepada ibu itu.
“iya dek, maaf ya kalau nanti muntah” ujar ibu itu sedikit terseyum
Aku hanya membalas dengan seyuman kepada ibu tersebut, bis pun segera berangkat meninggalkan terminal Pasir Hayam,
Bis pun berangkat, Bis ini akan berangkat menuju Terminal Rawabango, terminal kedua di cianjur, biasanya di Rawabango penumpang akan lebih banyak soalnya Terminal itu lumayan deket pusat kota.
“Baru Terminal rawabango” gumamku
“ udah jam 17:30 WIB baru nyampe sini, jam berapa nyampe Bandung” kesal aku sambil melihat sekitar-sekitar dalam bis.
Banyak yang masuk kedalam Bis itu di antaranya ada tentara yang masuk Bis itu dengan pakaian lengkap militer, ada para pedangan asongan dan terlintas aku melihat pemandangan yang tidak wajar, aku tertarik untuk melihat salah satu sudut tempat duduk di arah belakang dengan tempat dudukku.
Terlihat tiga orang wanita duduk di bangku tiga belakangku, aku perhatikan secara seksama kearah mereka, aku perhatikan kearah mereka dengan sekali-kali mencuri pandangan ke salah satu wanita dari rombongan itu, mereka datang bertiga yang satu memakai rok batik hitam dengan baju dan kerudung warna biru, yang satu pakai celana jeans dan kaos dan yang satu ini yang membuat aku tertarik seorang wanita dengan memakai rok hitam dan baju pola kemeja kotak-kota warna pink putih dengan kerudung warna pink, terlihat untuk wanita satu ini dia mememilih untuk diam saja di bandingkan teman-temannya yang lebih banyak ngobrol.
Aku terus mencuri pandangan arah wanita yang mempunyai, wajah alami yang mengenakan hati, memberikan cahaya jiwa masuk dalam sukma, memberi ketenangan ketika melihatnya.
“ ah siapa ya gadis itu?” pikirku dalam hati
“lihat saja jika memang aku jodoh sama dia suatu saat nanti aku pasti bisa kenal dengan dia” tegasku dengan begitu yakin.
Udah satu jam perjalanan menuju bandung, keadaan di dalam bis lebih banyak sepinya terlihat para penumpang lebih banyak menghabiskan tidur dalam menempuh perjalanan ini, maklum jam sudah menunjukan 19:00 WIB. Tidak seperti biasanya perjalanan sangat lambat, biasanya dalam waktu satu jam bis selalu sudah berada di gerbang Tol padalarang, tapi kali ini beda, sampai saat ini Bis baru nyampe cipatat. Rute cipatat yang berbelok-belok dan menanjakan menjadikan kendala sendiri sehingga pergerakan bis agak sedikit lambat dengan beban bis yang melebihi batas maksimalnya.
Untuk mengisi waktu, biasanya aku sering melihat keadaan di dalam bis, ya untuk sekedar iseng aku suka melihat ekspresi wajah setiap penumpang, ada yang wajahnya tegang, ada yang sedih ada yang penuh dengan beban, hal ini bisa dilihat dari murat wajah dari orang-orang tersebut,hal ini sering aku lakukan jika aku berada di keramaian, aku selalu ingin mengetahui perasaan seorang dengan hanya melihat wajahnya, sesekali aku mencuri pandangan kepada gadis berkerudung pink itu, terlihat dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku, lebih lihat seksama buku yang dia baca adalah buku Bumi Cinta karya habiburahman el sirazy, dia begitu serius membaca buku itu dan memang isi buku itu bagus sekali karena berisi perjuangan seorang santri di negeri Rusia yang terkenal dengan Seks bebasnya. Karena terlalu asyik melihat gadis itu tidak di sadari aku diperhatikan juga oleh gadis itu, sedikit mengadu mata yang seakan memberikan tanda perkenalan aku pun berusaha untuk bisa tetap mengendalikan hasrat ini.
“aduh aduh, uuuoooo” terdengar seorang lagi muntah
“ wah ibu!!” teriakku kepada ibu-ibu yang duduk di samping aku
“ aduh maaf ade! ibu tidak kuat, punya kantong plastik” Tanya ibu itu dengan nada yang sudah melemah.
Aku pun langsung berdiri untuk mengambil kantong plastic yang ada di tas aku, karena kaget aku jadi lupa menyimpan kantong itu dimana, tiba-tiba.
“gubrak!, suara apa itu? Tanyaku heran ketika sibuk mencari kantong plastik yang lupa menyimpannya.
Ketika kantong plastik sudah aku temukan, aku tidak sadar kalau posisi ibu itu sudah jatuh kebawah.
“IBU-IBU BANGUN!” teriakku ketika aku tahu kalau suara itu berasal dari tubuh Ibu yang terjatuh karena pingsan.
posisi yang jatuh kebawah menjadi perhatian penumpang yang lainnya, mereka terlihat keheranan dengan keadaan ibu itu. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung mengangkat tubuh ibu ke kursi. Aku angkat tubuh ibu itu seperti duduk dengan kepala yang aku sengajakan menyender ke bahu ku, Aku jadi pusat perhatian, tapi sayang tidak ada satu penumpang pun yang mau membantu aku untuk merawat ibu ini, mungkin mereka mengira bahwa ibu ini adalah ibu kandungku tapi tidak ada kepekaan dalam hati para penumpang ini melihat orang yang lagi mendapatkan musibah, mungkin ini yang namanya hati yang beku itu.
Aku pun menjadi semakin bingung ketika ibu itu jatuh pingsan, tidak ada bisa yang aku lakukan aku yang dulu di SMA sering mengukuti kegiatan PMR pun tidak ada yang bisa Aku lakukan, yang bisa aku lakukan hanya mengolesin tangan Ibu itu dengan minyak telon.
“ maaf ka, ada yang bisa saya bantu?”terdengar suara dari belakang.
Saat aku melihat ternyata dibelakang sudah ada gadis yang berkerudung pink itu mendekat menghampiriku.
“heu..iya bisa” jawabku dengan sedikit gugup setelah melihat dia
“ kenapa ka dengan ibunya?” Tanya dia heran
“ kurang tahu, tadi sih aku mau ngambil kantong buat ibu ini karena tadinya ibu ini muntah, eh tahu-tahunya dia jadi pingsan” jawabku sambil terus memijit-mijit bahu ibu itu.
“memang awalnya bagaimana ka?”lanjut gadis itu.
“ awalnya sih dia memang bilang sakit dan memang dari pas pemberangkatan dia udah kelihatan pucat”.
“ ya udah ka kalau gitu, mungkin aku bisa ikut merawatnya” tegas gadis itu begitu mantapnya.
Akhirnya kita berdua bertukaran tempat duduk, aku menjadi duduk bersama teman-temanya di belakang, lalu gadis itu duduk di tempat dudukku dengan terus merawat ibu yang sedang sakit itu.
 Dari arah belakang, aku terus memperhatikan kasih sayang wanita itu ibu itu terlihat nyaman berada menyender dibahu gadis itu seperti bayi yang berada didalam pelukan ibunya yang haus akan kasih sayang seorang ibu.
Bis sudah memasuki tol padalarang, belum terlihat tanda-tanda ibu itu akan sehat, ada kekhawatiran tersendiri dalam diriku, aku merasa ibu itu menjadi tanggung jawabku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Malu aku sebagai seorang laki-laki yang tidak bisa menjaga atau melindungi wanita yang ada disebelahku.
“ka, kok serius sekali melihat ibu itu”tanya gadis yang duduk disebelahku
“oh tidak, cuman kagum aja sama gadis itu kok mau mauanya dia merawat ibu tua yang dia tidak kenal”jawabku sambil tetap memperhatikan kearah ibu itu.
“oh wajar sih ka, dia kan kuliahnya di kebidanan sudah biasa dia merawat-rawat seperti itu”jawab gadis itu kembali
“oh gadis berkerudung pink itu mahasiswa kebidanan ya, tapi aku malu untuk menanyakan yang lebih jelasnya”pikirku dalam hati
Kami pun menjadi saling diam lagi, kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua teman gadis berkerudung pink itu lebih banyak membaca buku dan main handpone.
12 KM lagi menuju terminal cileunyi, ibu masih belum menampakan tanda-tanda akan siuman aku jadi serba salah dengan keadaan yang aku hadapi.
“kakak!”terdengar suara yang masuk kedalam telingaku ketika tidur
“oh de, ada apa?”tanyaku sambil mengusap wajah yang terlihat bangun tidur
“ibu ini masih belum siuman, kakak tahu rumah ibu ini dimana?”tanya gadis itu penasaran
“aduh de, ka juga tidak tahu, bagaimana ya?”jawabku kebingungan
“kalau begitu, di cileunyi ada rumah sakit bagaimana kalau kita bawa aja kesana”ujar gadis itu
“iya boleh”ucapku tegas.
Beberapa menit setelah aku dan gadis itu saling berbicara, ibu itu sudah mulai menampakan kesehatan dalam dirinya.
“Allahuakbar”takbir ibu tersebut
“aduh, maaf ade-ade jadi merepotkan kalian”ucap ibu itu sambil lemas
“oh tidak apa-apa kok”jawabku serempak dengan gadis itu
“ibu, kami berencana mau membawa ibu untuk kerumah sakit soalnya ibu masih lemas”ujar gadis itu dengan penuh perhatian
“tidak usah ibu udah sehat kok”jawab ibu itu sambil menguatkan dirinya
“ibu tinggal dimana, mungkin aku bisa mengantar ibu sampai tujuan”aku mencoba menawarkan diri.
“tidak usah, ibu tinggal di Majalaya udah dekat kok!”
Akhirnya ibu tersebut telah sadar, tidak terasa kondektor sudah memberitahu bis ini sudah sampai cileunyi. Ibu itu terlihat terseyum kepada kami berdua aku, aku menjadi khawatir kepada ibu ini apakah dia baik-baik saja.
Aku dan penumpang lainnya turun dari bis karuni bakti ini, cileunyi menampakan kepadatannya bis-bis dari jurusan daerah lain secara bersamaan berhenti.
“terima kasih ya, udah bantu aku ngurusin ibu yang sedang sakit itu”sapa aku kepada gadis pink itu
“iya sama-sama, aku juga terima kasih ke kakak udah menyadarkan aku dari sifat ketidak pedulian”jawab dia rendah hati
Aku pun hanya membalas dengan seyuman, wanita itu menjadi lambang kepedulianku tentang membantu sesama.
“ka, aku pamit dulu. Assalamualaikum”sambil berjalan kearah yang berlawan denganku
“walaikumsalam”jawabku sambil berbalik badan.
Gadis itu pun sudah tidak terlihat kembali, seakan tengelam oleh keramaian terminal cileunyi, bis karunia bakti membuat kisah menarik, gadis kerudung pink itu pun menjadi bagaian dari rangkaian kisah yang aku buat.
Aku pun naik kedalam angkot, sambil menunggu angkot itu berjalan aku pun teringat kalau di dalam tasku ada makanan ringan, saat aku buka tasku aku menemukan secarik kertas kecil dari dalam tasku yang bertuliskan.
              Kakak sepertinya suka dengan teman aku ya, namanya Nida Antika Sari
“Nida ternyata namanya”ucapku dalam hati seiring berjalannya angkot jurusan caheum cileunyi.



  

0 komentar:

Posting Komentar