This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Senin, 05 Agustus 2013
16.51
Ridwan Setiawan
Neidya, Sang Bidadari yang putus sayapnya
“Wanita yang cocok dengan Ridwan Setiawan adalah wanita yang peka
terhadap kejadian sosial lalu mencintai ilmu dan agamanya”
Jika kalian pernah membaca 7 percepatan rezeki kalian akan
menemukan yang namanya sepasang bidadari yaitu, kedua orang tua kita dan
pasangan hidup kita ( istri ). Disini saya akan sedikit membagi bagaimana
rasanya sakit hati ketika orang yang kita anggap calon istri kita ternyata
lebih memilih laki-laki yang lebih muda dari pada kita.
Namanya Neidya, aku memperhatikan dia ketika ketika dia masih kelas
X, iya aku tahu tentang dia dari Pak Kurniawan, dia yang menawari saya buat
kenal dengan dia, ya dulu sih tidak seperti sekarang jadi ada rasa cinta
kepadanya soanya dia masih kecil baru umur 15 tahun ketika aku kenal sama dia
dan aku sudah berumur 19 tahun pada waktu itu. Dari perbincangan-bincangan
kecil dengan pak kurniawan disana sering Pak kurniawan menceritakan kelebihan
Neydia itu, katanya dia jago sastranya, jago puisinya dan lain-lain, disana aku
bisa menyimpulkan bahwa dia berbakat di dunia sastra.
KIJ, adalah salah satu ekstra kulikuler yang ada di MAN Cianjur,
dengan pembinanya adalah Pak Lili Shaleh, dalam KIJ ini semua siswa belajar
bagimana menjadi seorang penulis, biasanya siswa yang masuk eskul ini adalah
siswa yang baik-baik dan pintar-pintar, maklum dalam eksul ini banyak kegiatan
yang memang hanya orang-orang tertentu yang mau melakukannya, baik menjadi
seorang reporter, jurnaslis atau wartawan itu akan secara tidak langsung akan
mereka lakukan di KIJ, misalnya ketika sekolah mengirimkan wakilnya ke
perlombaan maka dari pihak KIJ harus ada yang mau meliput berita tersebut dan
biasanya perwakilan debat juga suka dari eksul ini.
Neidya adalah ketua dari eksul itu, dimana dia bisa menjadi ketua
tersebut karena dia selalu berprestasi dalam bidang sastra khusunya bidang
puisi, setiap lomba yang dia ikuti pastilah dia akan menjadi pinalis dari lomba
tersebut, aku suka kedia yaitu ketika dia bilang kepadaku bahwa dia tidak suka
dengan yang namanya pacaran, iya perbuatan hina yang sering dilakukan oleh
anak-anak remaja ini menjadi hal yang lumrah terjadi, aku sadar ternyata masih
ada orang yang mau mengatakan tidak mau pacaran pada umur itu, disana saya jadi
menyukai dia dan saya pun menjadikan dia sebagai contoh untuk teguh kepada
pendirian.
Apa hubungan antara neidya dengan
perjalan saya untuk ke turki, saya memang tidak menjadikan pacar dan saya
gunakan dirinya untuk bisa menjadikan lebih baik, pembuktian kepada dia bahwa
saya pun bisa untuk pergi ke turki, yang suatu perjalanan yang panjang ketika
dalam menempuhnya penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Dengan terus
memperhatikan Neidya sebagai calon istri saya, saya jadi lebih tenang dalam
menjalankan cita-citaku untuk bisa berkarya, dengan terus memikirkannya saya
jadi sangat tenang ketika kegelisaan muncul dalam umur yang semakin bertambah
dan kemamuan dalam memenuhi isi hati menjadi tekanan.
28 September 2015, menjadi tanggal
pernikahan kita, walapun dalam hitungan hari ini sangatlah jauh, kenapa saya
harus menyantungkan tanggal pernikahaan ini, karena dalam doa perlu adanya
kejelasalan tempat dan tanggal sehingga Allah akan mengabulkan doa kita, tapi
ini menjadi sebuah rencana ketika saya melihat di jejaring sosial dia menyatakan
bahwa dia sudah mempunyai pacaran, sebenarnya bukan didari segi dia punya atau
tidaknya melainkan melakukan atau tidaknya, karena dalam setiap obrolan pasti
akan sedikit menyinggung tentang makna pacaran seperti apa dan apa hukumnya,
jujur saya adalah orang yang tidak menyukai dengan namanya pacaran, dan orang
yang selalu membuka topic tentang pacaran ternyata dia yang melakukan, apa yang
sebenarnya terjadi apakah masih ada wanita yang bisa menjaga kehormatan
dirinya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
16.49
Ridwan Setiawan
CINTA SUCI DI PENJARA SUCI
( Ridwan Setiawan )
Akhirnya jadi juga kepindahanku ke kota cianjur, kota kecil yang
berada di sebelah barat bandung ini memberikan kesan yang indah pada pandangan
pertama. Kota yang dibatasi oleh sungai citarum ini memberikan kesan nyaman dan
tenang. Beda sekali dengan tempat tinggalku yang hanya mengambarkan keangkuhan
dan keegoisan kepada setiap individu, tidak memberikan kesan yang ramah kepada
setiap orang yang ada didekatnya. Ini pula yang menjadikan alasan untuk menerima
tawaran nenekku untuk pindah ke kota cianjur, tidak apa-apa aku harus
meninggalkan gemerlap kota bandung yang penuh dengan kesan eksotis, keramaian
dan gemerlap malam kota bandung.
Bis Doa ibu melaju kencang menusuri jalan raya bandung, tidak lepas
fanorama keindahan alam yang menghiasi pinggir jalan, aku beserta nenekku duduk
di kursi berdua diurutan ketiga dari depan sehingga dari tempat duduk itu
terlihat bagian depan bis Doa ibu tersebut.
“inilah cu, tempat nenek tinggal tempat nenek dan ibumu dilahirkan,
kota kecil dengan gunung gede sebagai symbol kebesarannya” jelas nenek sambil
memandang pemandangan dari jendela.
Aku kurang begitu hafal dengan kota ini, terasa asing bagiku yang
semenjak lahir aku hanya tahu kota bandung dan tidak pernah berkunjung ke kota
lain termasuk cianjur. Aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh nenekku, yang aku
tahu adalah aku akan tinggal dengan nenekku dan bersekolah di tempat nenek dan
ibuku dulu belajar.
Tidak
terasa, Bis pun berhenti di terminal rawa bango, terminal yang terlihat sepi
ini hanya menjadikan tempat persinggahan sesaat oleh para pengendara bis kota.
Tidak ada satu pun bis yang sengaja diam diterminal ini. Kumuh dan kotor yang
menggambarkan terminal ini.
“cu,
hayu turun kita udah sampai” ajak nenek kepadaku
“oh
udah sampainya ne, kok tempatnya aneh gini nek” tanyaku heran dengan keadaan
terminal tersebut.
Nenekku
tidak terlalu berkomentar dengan ucapan yang aku lontarkan kepada nenekku tadi,
langsung nenekku berjalan menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari terminal
itu, aku tidak tahu kalau nenekku akan mendaftarkan aku kesekolah yang mana,
yang jelas aku disuruh oleh ibuku untuk menuruti segala perintah nenekku.
“cu,
inilah sekolah yang nenek dan ibumu belajar dulu” jelas neneku sambil menunjuk
kepada papan nama sekolah
“
SMA Terpadu nek?” jawabku heran
“
iya cu, sekarang sekolah ini udah bagus dan udah berjalin kerja sama dengan
timur tengah dan fasilitasnya juga udah baik” jelas nenekku sambil berjalan
masuk kedalam gerbang
“ah,
SMA Terpadu kirain SMA yang udah internasional, masa jauh-jauh pindah dari
bandung hanya untuk sekolah di sekolah ini nek” ujarku kepada nenekku.
Nenekku
hanya terseyum mendengar ucapanku, dia seperti tidak mengganggap ucapanku dan
seperti mewajarkan apa yang telah aku katakan.
Aku
pun di ajak oleh nenekku masuk ke dalam kantor sekolah, terlihat tulisan dari
karton yang tertulis penerimaan santri baru. Terdengar lucu olehku karena aku
tidak pernh niat ingin menjadi santri, lebih baik kalau aku tetap tinggal di
bandung dan masuk ke SMA Negeri 3 bandung, udah jelas secara kualitas dan
fasilitas. Tapi kenapa ibu dan neneku mengajakku untuk melanjutkan disekolah
ini di SMA Terpadu.
Bulan
pertama aku tidak bisa menikmati suasana belajar di sekolah ini, tidak ada
hasrat untuk belajar. Kegemaranku terhadap Ilmu matematika dan fisika seperti
tidak berkembang disekolah ini. Sekolah yang lebih mempioritaskan ilmu agama
tersebut lebih banyak mempelajari kitab-kitab tradisional. Kejenuhanku sedikit
terobati ketika aku bergaul dengan teman-teman sekamarku, aku tinggal dikamar
yag berukuran 4x6 dengan beranggotakan 4 orang termasuk aku, mereka sudah aku
anggap keluarga sendiri, Ahmad dan Ujang, mereka adalah teman baiku, ahmad yang
berasal keluarga Ustad pemilik pesantren yang terkenal di Sukabumi itu memiliki
hobi menulis, tidak hayal aku pun menjadi langganan cerpen-cerpen dia. Ujang,
teman satuku ini adalah anak dari seorang Bos Pete di cianjur, dialah yang
menjadikan kamar ini bau dengan petenya dia yang mempunyai hobi nonton FTV ini
mempunyai cita-cita menjadi Produser FTV islami. Merekalah yang selalu
menemaniku dalam mengarungi kehidupan di penjara ini.
Aku
termasuk santri yang tidak terlalu di sekolah, banyak teman-temanku baru bulan
pertama sudah masuk kedalam ekstrakulikuler sekolah, banyak yang merapat juga
dengan eksul lain, dirata-rata setiap santri angkatanku mengikuti 2 eksul. Aku
suka heran bagaimana mereka bisa membagi waktu dengan sekolahnya kalau waktu
mereka habiskan hanya untuk berkumpul dan rapat, sungguh aneh mereka. Sama
halnya dengan Ahmad dan Ujang, mereka sama denganku tidak mengikuti eksul
disekolah tapi mereka berdua bisa dibilang santri yang bisa langsung berbaur,
tidak hanyal mereka sampai bisa kenal satu angkatan baik santri perempuan dan
santri laki-laki.
“hei
wan, kamu mau diam terus dikamar?mainlah keluar berbaur dengan teman yang
lain.”ajak Ahmad sambil mengambil buku catatannya.
“ah
males mad, pastinya yang diobrolin pastinya tentang kitab gundul lagi kalau
tidak tentang santriwati”jawabku sambil menutup diri dengan selimut.
“hmmm…iya
udah kalau kamu mau jadi sleapman.hahaha. oh ya wan, ngomong-ngomong si Ujang
kemananya?”Tanya ahmad heran
“aduh
ini si Ahmad, udah sana pergi mau tidur nih, si ujang lagi di warung si Ibi
lagi liat FTV disana” ujarku dengan kesal.
“oke,
selamat tidurnya dede bayiku sayang”ledek ahmad kepadaku
Aku
pun langsung lempar ahmad dengan bantal bunga-bunga kesayanganku kearah si
ahmad, dia pun dengan cekatan bisa menangkis tembakan meriam andalanku.
“eits,
gak kena-kena” ledek ahmad kepadaku.
Satu
tahun telah aku lalui, aku masuk dalam sepuluh besar santri yang berprestasi
walaupun jika melihat dari hasil raport, aku tertolong dengan mata pelajaran
umumku, tapi ada perubahan yang aku dapat setelah menjalani satu tahun di
penjara ini, aku menjadi senang belajar tafsir Shahih Muslim, tidak tahu kenapa
alasannya tapi aku menjadi suka dengan pengajian itu.
Ahmad
tetap menjadi santri No 1, dia sudah hafal 10 Juz dalam Al-Quran tidak heran
dia yang ingin menjadi cendikiawan ini siang malam dia selalu menambah
hafalanya tidak ketinggalan aku dan Ujang pun ikut belajar dari dia. Dari hasil
kami bertiga, Ujanglah yang paling jelek malahan dia masuk dalam urutan 10
besar santri terbawah, tapi jangan salah dia mempunyai bakat yang lain, selama
setahun disini dia sudah membuat 10 teks naskah drama dan 3 diantaranya dipakai
oleh eksul teater dan teater di DKC, aku bisa melihat kalau Ujang berbakat
menjadi seorang penulis naskah dan juga sutradara yang hebat.
Pengumuman
pun dimulai, kita semua dipanggil satu per satu sesuai dengan peringkat yang
kami dapat, aku mendapatkan pringkat kelima dan Ahmad menjadi santri pertama
yang dipanggil sama Ustad Usman dan menjadikan Ahmad santri terbaik angkatan
aku.
“memang
hebat Ahmad, dia menjadi santri terbaik di tahun pertamanya”ujarku dalam hati
Ustad
Usman melanjutkan kembali pengumumannya, sekarang beliau akan mengumuman santri
teladan tahun 2012, prestasi yang direbutkan oleh 3 angkatan ini diambil satu
dari yang terbaik tidak heran kalau prestasi ini ditunggu-tunggu oleh semua
santri
“untuk
santri teladan untuk tahun ini diraih oleh Kamila Etna Larasati Mahera dari
tingkat satu”ujar Ustad Usman dengan dibarengi tepuk tangan yang meriah dari
semua santri.
Semua
santri menyambut meriah pengumuman dari Ustad Usman, mereka bertanya-tanya
siapakah gadis yang bernama Kamila Etna larasati mahera itu sehingga bisa
mendapatkan penghargaan sebagai santri teladan.Aku menjadi penasaran dengan
gadis berkacamata tersebut,jika dilihat dia memang mempunyai daya tarik yang
berbeda dengan gadis lain perawakan yang sederhana dan murah seyum itu membuat
dirinya lebih special tidak hanyal banyak santri yang menaruh harapan kepada
dia, termasuk aku pada pandangan pertama.
Pengumuman
pun selesai, para santri kembali lagi ke asrama masing-masing, Aku, ahmad dan
Ujang lebih memilih untuk pergi ke kantin sekolah.
“Ahmad,
Ujang. Kalian kenal tidak dengan gadis yang dapat gelar santri teladan
itu?”tanyaku penasaran kepada mereka.
“ya
kenallah wan”jawab mereka bersama
“wah,
yang bener kalian. Kalian pada kenal dengan dia?”sambungku dengan semangat
“ya
udah saya ceritakannya, namanya kamila etna larasati mahera kita sering
memanggilnya etna, dia itu satu ekskul dengan saya di ekskul Hafidz Quran,
orangnya baik dan shalehah dia juga sudah hafal lebih dari saya kalau tidak
salah udah 15 juz, tidak heran sih untuk orang yang mau melanjutin study ke
Al-Azhar University Cairo”jelas Ahmad kepadaku
“memang
ada apa wan, tumben kamu Tanya-tanya tentang wanita?”Tanya ahmad heran
“aha,
ini sinyal mad kalau si Ridwan suka sama etna”lanjut Ujang sambil makan
gorengannya
“ah
ini si ujang sembarangan kalau menyimpulkan”ucapku dengan sedikit malu
“eh
ujang udah, biarkan aja si Ridwan juga manusia dia punya perasaan, biarkan
maniak Descartes ini jatuh cinta kepada gadis yang bernama etna itu”gurau ahmad
kepada kami berdua
Kami
pun menyudahi perbincangan di kantin itu, kami langsung beranjak pergi ke
asrama untuk istirahat, Aku merasa beruntung punya teman seperti ahmad dan
ujang, merekalah yang membuat aku betah tinggal di penjara suci ini.
Kehadiran
etna dalam hidupku menjadikan jalan kehidupan di penjara ini sedikit berubah,
tidak tahu kenapa aku menjadi suka melamunkan dirinya. Gadis berkaca mata itu
menjadi lebih anggun dibalut kerudung panjang yang indah, penampilan yang
sederhana itu menjadi lebih menarik dibandingkan gadis sekarang yang lebih
mementingkah style. Kehadiran etna dalam hatiku menjadikan hiasan baru untuk
menempuh tahun keduaku di penjaran ini.
Ajaran
tahun baru sudah dimulai kembali, para santri yang pulang kerumah masing-masing
sudah kembali lagi ke Asrama. Aku, Ahmad dan Ujang memutuskan untuk tidak
pulang kerumah dan lebih memilih untuk berlibur di Asrama. Para santri dari
angkatan 2 dan 3 yang masuk kedalam 10 santri berprestasi diminta oleh pak kiyai
untuk dijadikan paniti Ta’aruf Santri untuk membantu OSIS, saran dari Ahmad dan
Ujang, aku dimasukan sebagai seksi
dokumentasi, ujang sebagai seksi displin dan Ahmad sebagai Humas.
Rapat
panitia pun langsung dilaksanakan malamnya, rapat perdana dilaksanaka di Aula
Mumtaza. Rapat pertama itu lebih memfokuskan kedalam acara dan aku sudah
bekerja pada rapat pertama itu, aku langsung mengambil momen rapat perdana itu,
seksi acara yang di koordinatori oleh Etna menjadi bagian penting pada acara
malam itu, konsep acara taarufnya begitu memukau semua panitia, dia memang
cerdas dan semua orang mengakuinya.
“memang
etna bener-bener hebat”gumamku dalam hati sambil mengarahkan kamera kearahnya
Aku
tidak menyia-nyiakan kesempatan sebagai dokumentasi untuk mengambil
fhoto-fhotonya ketika rapat.
3
minggu semua panitia melakukan rapat, semua kebutuhan sudah dipersiapkan dan
pelaksanan pun akan dilaksanakan keesokan harinya, semua panitia bekerja secara
professional dan sesuai dengan tugasnya. Ahmad terlihat sudah lebih mahir saat
mengobrol dengan pemateri, Ujang menjadi panitia yang paling disiplin dan
mendapat predikat kakak tergalak, yang menjadi primadona dalam acara taaruf itu
adalah Etna, dia yang menjadi MC setiap acara di taaruf tersebut. Aku tidak
pernah menyia-nyiakan kesempatanku untuk mengambil gambar dirinya ketika
berbicara di depan peserta. Akhirnya pelaksanaan taaruf santri berakhir dengan
baik, kita mendapatkan pujian dari pak Kiayi dalam pelaksanaannya.
Pembelajaran
tahun baru akhirnya, aku sekarang sudah kelas XI dan jurusan yang aku ambil
adalah IPA, Ahmad dia lebih memilih jurusan IAI dan Ujang di memilih jurusan
Bahasa. Kita masih satu kamar dan tidak ada yang berubah dari mereka. Aku
segera ingin mengetahui etna dia memilih jurusan apa, aku, Ahmad dan ujang
langsung pergi menuju kantor TU untuk melihat papan pengumuman disana sudah
tertempel nama-nama santri dan kelasnya.
“kamila
etna, dimananya kelasnya”pikirku dalam hati sambil melihat daftar nama dan
kelasnya
“Ridwan,
Etna satu kelas dengan saya” ujar Ujang
“wah
yang bener jang, hmm kelas bahasanya?”sambutku dengan sontak
“jelaslah
kalau dia ngambil jurusan bahasa, karena diakan ingin melanjutkan study di
Al-Azhar University jadi ngambil jurusan bahasa agar bisa lebih mendalami
bahasa arabnya”jelas Ahmad
Dari
penjelasan ahmad, aku menjadi sadar bahwa aku ada di ponpes ini tanpa tujuan,
etna telah mengajarkan kepadaku untuk mempunyai tujuan. Lalu apa tujuanku ada
disini dan niatku apa untuk ada disini.
“aku
harus punya tujuan dari sini”pikirku dalam hati
“oke
teman-teman, kita siap untuk menghadapi ajaran tahun ini!”ajakku kepada mereka
“oke
kita siap”terik mereka berdua.
16.47
Ridwan Setiawan
True Story
Karunia Bakti,
Bukti Pertemuan kita
Ridwan Setiawan
Dulu aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada
pandangan pertama, aku sering meragukan cinta itu, karena biasanya cinta pada
padangan pertama itu pada dasarnya adalah bentuk kepenasaran suatu perasaan
kepada seseorang yang baru dijumpai. Terkadang hal yang cepat muncul itu akan
menjadi tidak bermakna jika dalam menghadapinya dengan kekosongan. Tapi teori
yang aku pegang itu menjadi tidak berlaku ketika pertemuanku dengan gadis
berkeredung
pink itu.
Pada awalnya Aku sering tidak pernah mau naik Bis Karunia Bakti,
alasannya sih karena ongkosnya yang mahal dan sering ngetemnya itu yang buat
aku tidak menyukainya. Aku adalah mahasiswa salah satu Univesitas negeri di
Bandung, pada waktu itu aku berencana kembali ke bandung untuk mengisi KRS buat
semester depan, maklumlah dosen pembimbingku super sibuk bisa jadi sekarang dia
di bandung besoknya sudah di kota lain bisa di Aceh, Palembang makasar dan
tempat-tempat yang lain, makanya aku tidak berpikir panjang untuk berangkat ke
Bandung, soalnya jika tidak hari esok entah hari apa lagi aku bisa bimbingan,
aku tinggal di Kab Cianjur lumayan jarak cianjur dengan bandung berkisar kurang
lebih 2-3 jam maka aku putuskan untuk berangkat ke bandung sore hari.
Sorenya, aku bersiap berangkat menuju bandung, sebenarnya aku sudah
telat 1 jam untuk berangkat jika aku berharap bisa naik Bis Doa Ibu jurusan
Tasik Jakarta yang terkenal super murah dan cepatnya, “tidak apa-apalah Karunia
bakti juga” pikirku ketika aku sambil melihat jam HP Siemens A55ku yang
menunjukan jam 16:30 WIB.
“mana lagi itu bis lama banget!” kesalku ketika lama menunggu Bis
yang jurusan Cileunyi. Aku menunggu datangnya bis di terminal Pasir hayam atau
lebih di kenal dengan Jebrod kebetulan aku dekat dengan terminal ini, cianjur
memilki 2 terminal sebenarnya yaitu terminal Pasir hayam dan terminal
Rawabango, nantinya Bis yang akan mengarah ke Bandung pasti akan berhenti dulu
di dua terminal itu.
Berapa menit
kemudian munculah bis Karunia Bakti jurusan Jakarta Garut itu, dengan dibarengi
terik sang kondektor yang nyaring sehingga dari jarak yang jauh sudah terdengar
kerasnya.
“
CILEUNYI-CILEUNYI!!” teriak kondektor itu
“PAK BERHENTI,
AKU MAU IKUT” teriaku untuk bisa memberhentikan Bis itu
“Cileunyi pak?”
tanyaku
“ iya de, ini
arah cileunyi”
“kalau ke
cileunyi ongkosnya berapa?” tanyaku kepada kondektor itu,
katanya kalau
naik Bis ini ongkosnya sering berubah-berubah kadang-kadang 12 rebu,
kadang-kadang bisa jadi 15 rebu.
“ 15 rebu “
jawab kondektor dengan dingin
“ iya mahal
pak, biasanya juga 12 rebu masa naik gini, kemarinkan masih 12 rebu kenapa
sekarang 15 rebu”
“ya udah mana
uangnya” dengan sedikit kesal kondektor pun pergi menuju penumpang yang lain.
Aku memilih duduk di kursi dua dan posisiku lumayan ditengah-tengah
bis, aku sering duduk yang kursi berdua itu biar nyaman aja, karena kalau yang
kursi tiga itu kurang nyaman biasanya duduknya yang tidak bisa teratur.
Aku duduk bersama seorang ibu-ibu, kelihatan dari wajahnya ibu ini
lagi sakit dengan terlihat dari murat wajahnya yang pucat dan lingkaran matanya
yang hitam.
“Bu, Kursi ini
Kosong?” tanyaku kepada ibu itu
Ibu itu
langsung aja mempersilahkan Aku duduk tanpa mengatakan apa pun
“maaf ibu lagi
sakitnya” Tanyaku kepada ibu itu.
“iya dek, maaf
ya kalau nanti muntah” ujar ibu itu sedikit terseyum
Aku hanya
membalas dengan seyuman kepada ibu tersebut, bis pun segera berangkat
meninggalkan terminal Pasir Hayam,
Bis pun
berangkat, Bis ini akan berangkat menuju Terminal Rawabango, terminal kedua di
cianjur, biasanya di Rawabango penumpang akan lebih banyak soalnya Terminal itu
lumayan deket pusat kota.
“Baru Terminal
rawabango” gumamku
“ udah jam
17:30 WIB baru nyampe sini, jam berapa nyampe Bandung” kesal aku sambil melihat
sekitar-sekitar dalam bis.
Banyak yang masuk kedalam Bis itu di antaranya ada tentara yang
masuk Bis itu dengan pakaian lengkap militer, ada para pedangan asongan dan
terlintas aku melihat pemandangan yang tidak wajar, aku tertarik untuk melihat
salah satu sudut tempat duduk di arah belakang dengan tempat dudukku.
Terlihat tiga orang wanita duduk di bangku tiga belakangku, aku
perhatikan secara seksama kearah mereka, aku perhatikan kearah mereka dengan
sekali-kali mencuri pandangan ke salah satu wanita dari rombongan itu, mereka
datang bertiga yang satu memakai rok batik hitam dengan baju dan kerudung warna
biru, yang satu pakai celana jeans dan kaos dan yang satu ini yang membuat aku
tertarik seorang wanita dengan memakai rok hitam dan baju pola kemeja
kotak-kota warna pink putih dengan kerudung warna pink, terlihat untuk wanita
satu ini dia mememilih untuk diam saja di bandingkan teman-temannya yang lebih
banyak ngobrol.
Aku terus mencuri pandangan arah wanita yang mempunyai, wajah alami yang mengenakan hati, memberikan cahaya jiwa masuk
dalam sukma, memberi ketenangan ketika melihatnya.
“ ah siapa ya
gadis itu?” pikirku dalam hati
“lihat saja
jika memang aku jodoh sama dia suatu saat nanti aku pasti bisa kenal dengan
dia” tegasku dengan begitu yakin.
Udah satu jam perjalanan menuju bandung, keadaan di dalam bis lebih
banyak sepinya terlihat para penumpang lebih banyak menghabiskan tidur dalam
menempuh perjalanan ini, maklum jam sudah menunjukan 19:00 WIB. Tidak seperti
biasanya perjalanan sangat lambat,
biasanya dalam waktu satu jam bis selalu sudah berada di gerbang Tol
padalarang, tapi kali ini beda,
sampai saat ini Bis baru nyampe cipatat. Rute cipatat yang berbelok-belok dan
menanjakan menjadikan kendala sendiri sehingga pergerakan bis agak sedikit
lambat dengan beban bis yang melebihi batas maksimalnya.
Untuk mengisi
waktu, biasanya aku sering melihat keadaan di dalam bis, ya untuk sekedar iseng
aku suka melihat ekspresi wajah setiap penumpang, ada yang wajahnya tegang, ada
yang sedih ada yang penuh dengan beban, hal ini bisa dilihat dari murat wajah
dari orang-orang tersebut,hal ini sering aku lakukan jika aku berada di keramaian,
aku selalu ingin mengetahui perasaan seorang dengan hanya melihat wajahnya,
sesekali aku mencuri pandangan kepada gadis berkerudung pink itu, terlihat dia
lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku, lebih lihat seksama buku
yang dia baca adalah buku Bumi Cinta karya habiburahman el sirazy, dia begitu
serius membaca buku itu dan memang isi buku itu bagus sekali karena berisi
perjuangan seorang santri di negeri Rusia yang terkenal dengan Seks bebasnya.
Karena terlalu asyik melihat gadis itu tidak di sadari aku diperhatikan juga
oleh gadis itu, sedikit mengadu mata yang seakan memberikan tanda perkenalan
aku pun berusaha untuk bisa tetap mengendalikan hasrat ini.
“aduh aduh,
uuuoooo” terdengar seorang lagi muntah
“ wah ibu!!”
teriakku kepada ibu-ibu yang duduk di samping aku
“ aduh maaf
ade! ibu tidak kuat, punya kantong plastik” Tanya ibu itu dengan nada yang
sudah melemah.
Aku pun
langsung berdiri untuk mengambil kantong plastic yang ada di tas aku, karena
kaget aku jadi lupa menyimpan kantong itu dimana,
tiba-tiba.
“gubrak!, suara
apa itu? Tanyaku heran ketika sibuk mencari kantong plastik yang lupa menyimpannya.
Ketika kantong
plastik sudah aku temukan, aku tidak sadar kalau posisi ibu itu sudah jatuh
kebawah.
“IBU-IBU
BANGUN!” teriakku ketika aku tahu kalau suara itu berasal dari tubuh Ibu yang
terjatuh karena pingsan.
posisi yang
jatuh kebawah menjadi perhatian penumpang yang lainnya, mereka terlihat
keheranan dengan keadaan ibu itu. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung mengangkat
tubuh ibu ke kursi. Aku angkat tubuh ibu itu seperti duduk dengan kepala yang
aku sengajakan menyender ke bahu ku, Aku jadi pusat perhatian, tapi sayang
tidak ada satu penumpang pun yang mau membantu aku untuk merawat ibu ini,
mungkin mereka mengira bahwa ibu ini adalah ibu kandungku tapi tidak ada kepekaan dalam hati para
penumpang ini melihat orang yang lagi mendapatkan musibah, mungkin ini yang
namanya hati yang beku itu.
Aku pun menjadi
semakin bingung ketika ibu itu jatuh pingsan, tidak ada bisa yang aku lakukan aku
yang dulu di SMA sering mengukuti kegiatan PMR pun tidak ada yang bisa Aku
lakukan, yang bisa aku lakukan hanya mengolesin tangan Ibu itu dengan minyak
telon.
“ maaf ka, ada
yang bisa saya bantu?”terdengar suara
dari belakang.
Saat aku
melihat ternyata dibelakang sudah ada gadis yang berkerudung pink itu mendekat
menghampiriku.
“heu..iya bisa”
jawabku dengan sedikit gugup setelah melihat dia
“ kenapa ka
dengan ibunya?” Tanya dia heran
“ kurang tahu,
tadi sih aku mau ngambil kantong buat ibu ini karena tadinya ibu ini muntah, eh
tahu-tahunya dia jadi pingsan” jawabku sambil terus memijit-mijit bahu ibu itu.
“memang awalnya
bagaimana ka?”lanjut gadis itu.
“ awalnya sih
dia memang bilang sakit dan memang dari pas pemberangkatan dia udah kelihatan
pucat”.
“ ya udah ka
kalau gitu, mungkin aku bisa ikut merawatnya” tegas gadis itu begitu mantapnya.
Akhirnya kita
berdua bertukaran tempat duduk, aku menjadi duduk bersama teman-temanya di
belakang, lalu gadis itu duduk di tempat dudukku dengan terus merawat ibu yang
sedang sakit itu.
Dari arah belakang, aku terus memperhatikan kasih sayang
wanita itu ibu itu terlihat nyaman berada menyender dibahu gadis itu seperti
bayi yang berada didalam pelukan ibunya yang haus akan kasih sayang seorang
ibu.
Bis sudah
memasuki tol padalarang, belum terlihat tanda-tanda ibu itu akan sehat, ada
kekhawatiran tersendiri dalam diriku, aku merasa ibu itu menjadi tanggung
jawabku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Malu aku sebagai seorang laki-laki
yang tidak bisa menjaga atau melindungi wanita yang ada disebelahku.
“ka, kok serius
sekali melihat ibu itu”tanya gadis yang duduk disebelahku
“oh tidak,
cuman kagum aja sama gadis itu kok mau mauanya dia merawat ibu tua yang dia
tidak kenal”jawabku sambil tetap memperhatikan kearah ibu itu.
“oh wajar sih
ka, dia kan kuliahnya di kebidanan sudah biasa dia merawat-rawat seperti
itu”jawab gadis itu kembali
“oh gadis
berkerudung pink itu mahasiswa kebidanan ya, tapi aku malu untuk menanyakan
yang lebih jelasnya”pikirku dalam hati
Kami pun menjadi
saling diam lagi, kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua teman gadis
berkerudung pink itu lebih banyak membaca buku dan main handpone.
12 KM lagi
menuju terminal cileunyi, ibu masih belum menampakan tanda-tanda akan siuman
aku jadi serba salah dengan keadaan yang aku hadapi.
“kakak!”terdengar
suara yang masuk kedalam telingaku ketika tidur
“oh de, ada
apa?”tanyaku sambil mengusap wajah yang terlihat bangun tidur
“ibu ini masih
belum siuman, kakak tahu rumah ibu ini dimana?”tanya gadis itu penasaran
“aduh de, ka
juga tidak tahu, bagaimana ya?”jawabku kebingungan
“kalau begitu,
di cileunyi ada rumah sakit bagaimana kalau kita bawa aja kesana”ujar gadis itu
“iya
boleh”ucapku tegas.
Beberapa menit
setelah aku dan gadis itu saling berbicara, ibu itu sudah mulai menampakan
kesehatan dalam dirinya.
“Allahuakbar”takbir
ibu tersebut
“aduh, maaf
ade-ade jadi merepotkan kalian”ucap ibu itu sambil lemas
“oh tidak
apa-apa kok”jawabku serempak dengan gadis itu
“ibu, kami
berencana mau membawa ibu untuk kerumah sakit soalnya ibu masih lemas”ujar
gadis itu dengan penuh perhatian
“tidak usah ibu
udah sehat kok”jawab ibu itu sambil menguatkan dirinya
“ibu tinggal
dimana, mungkin aku bisa mengantar ibu sampai tujuan”aku mencoba menawarkan
diri.
“tidak usah,
ibu tinggal di Majalaya udah dekat kok!”
Akhirnya ibu
tersebut telah sadar, tidak terasa kondektor sudah memberitahu bis ini sudah
sampai cileunyi. Ibu itu terlihat terseyum kepada kami berdua aku, aku menjadi
khawatir kepada ibu ini apakah dia baik-baik saja.
Aku dan
penumpang lainnya turun dari bis karuni bakti ini, cileunyi menampakan
kepadatannya bis-bis dari jurusan daerah lain secara bersamaan berhenti.
“terima kasih
ya, udah bantu aku ngurusin ibu yang sedang sakit itu”sapa aku kepada gadis
pink itu
“iya sama-sama,
aku juga terima kasih ke kakak udah menyadarkan aku dari sifat ketidak
pedulian”jawab dia rendah hati
Aku pun hanya
membalas dengan seyuman, wanita itu menjadi lambang kepedulianku tentang
membantu sesama.
“ka, aku pamit
dulu. Assalamualaikum”sambil berjalan kearah yang berlawan denganku
“walaikumsalam”jawabku
sambil berbalik badan.
Gadis itu pun
sudah tidak terlihat kembali, seakan tengelam oleh keramaian terminal cileunyi,
bis karunia bakti membuat kisah menarik, gadis kerudung pink itu pun menjadi
bagaian dari rangkaian kisah yang aku buat.
Aku pun naik
kedalam angkot, sambil menunggu angkot itu berjalan aku pun teringat kalau di
dalam tasku ada makanan ringan, saat aku buka tasku aku menemukan secarik
kertas kecil dari dalam tasku yang bertuliskan.
Kakak sepertinya suka dengan teman aku ya, namanya Nida Antika Sari
“Nida ternyata
namanya”ucapku dalam hati seiring berjalannya angkot jurusan caheum cileunyi.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter