From Pondok to Mosque
(Ridwan Ibnu Sina)
Mungkin kita sering mendengar bahwa pendidikan agama yang baik itu
adalah di pondok pesantren. Memang benar kalau pendidikan agama itu harus di
pesantren dimana disana pendidikan agama lebih teratur dan terorganisir,
santri-santri di tuntut untuk mempelajari kitab-kitab tradisional yang lebih
banyak membahas tentang ilmu Piqih, Nahwu Sorof dan masalah Tauhid.
Keputusan aku meninggalkan pondok pesantern merupakan suatu
keputusan yang tidak sembarangan, keinginanku untuk belajar agama di pondok
pesantren seperti hanyalah mimpi, kenapa padahal pondok pesantren adalah
tempatnya?, ya mungkin pondok pesantern
yang idel seperti yang awal di jelaskan hanya sebatas sampai usia sekolah saja.
Untuk kalangan usia yang sudah jadi mahasiswa itu merupakan satu hal yang sulit
jika keadaan atau peraturan yang sering digunakan pada usia sekolah diterapkan
di usia mahasiswa.
Kembali lagi kepada persoalan kenapa saya keluar dari pondok
pesantren, sebenarnya dulu saya begitu betah tinggal di pondok pesantren,
dengan lingkungan yang akademik terus teman-teman yang menjadi tempat buat
diskusi, tapi itu saya temukan hanya satu tahun tinggal di pondok pesantren,
masalahnya adalah ketika tahun ajaran baru, ya dari sana timbulnya masalah,
ketika dari pihak pondok pesantren begitu asal-asalan dengan sistem penerimaan
santri barunya, jadi mereka yang memang tidak niat buat pesantrn pun bisa masuk
dan membuat “kekacauan” di pondok pesantrn, mereka membawa kebiasaan di kosan di
setiap kamar dengan sering dilaksanakannya main PS atau main kartu remi, sehingga membuat iklim edukasi pun jadi
tidak aktif lagi, dan inilah alasan kenapa saya keluar dari pondok pesantren.
Dulunya saya sempat ditahan sama salah satu dewan guru disana
ketika saya punya niat ingin keluar di Pondok pesantern, tapi saya pada waktu
itu masih ditahan ma dewan guru malahan saya ditantang apakah saya bisa sukses
tinggal di tempat yang seperti itu, benar pada waktu saya tidak tahan dengan
keadaan seperti ini, saya tidak percaya kondisi pondok pesantren yang kultur
agamis menjadi seperti kosan yang tidak ada satu sudut kamar pun yang
benar-benar kelihatan seperti seorang penuntut ilmu. Siapa yang menjadi
korban?orang-orang yang benar-benar ingin mencari ilmu mereka jadi tidak fokus
dalam mewujudkan niatnya.
Masalah ini sebenarnya bisa di atasi juga ada ketegasan di pimpinan
pondok pesantern, saya tidak tahu kenapa beliau tidak mau mengeluarkan
santri-santri yang tidak sesuai dengan peraturan pondok, niat beliau memang
mulia ingin membuat kultur yang agamis di daerah itu, tapi sepertinya akan
susah karena kenapa dari pihak masyarakat saja seperti tidak membutuhkan adanya
santri disekitar mereka, malahan antara pondok pesantern dengan masyarakat
seperti ada tembok besar yang tinggi sehingga susah untuk di robohkan.
Itulah alasan kenapa saya keluar dari pondok pesantern, dan saya
pun sekarang tinggal di mesjid sebagai ta’mir mesjid, saya senang sekali
tinggal di mesjid suasana nyaman dan tenang dimana tidak ada lagi rasa angkuh dari
setiap individu dan begitu dekat dengan masyarak sehingga pembelajaran hidup
begitu bermakna ketika tinggal di mesjid, dan inilah alasan kenapa saya keluar
dari pondok pesanten mudah-mudah mereka bisa sadar akan status mereka sebagai
santri seperti apa.
RSS Feed
Twitter
00.18
Ridwan Setiawan
0 komentar:
Posting Komentar