Sabtu, 02 Juni 2012


From Pondok to Mosque
(Ridwan Ibnu Sina)

Mungkin kita sering mendengar bahwa pendidikan agama yang baik itu adalah di pondok pesantren. Memang benar kalau pendidikan agama itu harus di pesantren dimana disana pendidikan agama lebih teratur dan terorganisir, santri-santri di tuntut untuk mempelajari kitab-kitab tradisional yang lebih banyak membahas tentang ilmu Piqih, Nahwu Sorof dan masalah Tauhid.
Keputusan aku meninggalkan pondok pesantern merupakan suatu keputusan yang tidak sembarangan, keinginanku untuk belajar agama di pondok pesantren seperti hanyalah mimpi, kenapa padahal pondok pesantren adalah tempatnya?, ya mungkin pondok  pesantern yang idel seperti yang awal di jelaskan hanya sebatas sampai usia sekolah saja. Untuk kalangan usia yang sudah jadi mahasiswa itu merupakan satu hal yang sulit jika keadaan atau peraturan yang sering digunakan pada usia sekolah diterapkan di usia mahasiswa.

Kembali lagi kepada persoalan kenapa saya keluar dari pondok pesantren, sebenarnya dulu saya begitu betah tinggal di pondok pesantren, dengan lingkungan yang akademik terus teman-teman yang menjadi tempat buat diskusi, tapi itu saya temukan hanya satu tahun tinggal di pondok pesantren, masalahnya adalah ketika tahun ajaran baru, ya dari sana timbulnya masalah, ketika dari pihak pondok pesantren begitu asal-asalan dengan sistem penerimaan santri barunya, jadi mereka yang memang tidak niat buat pesantrn pun bisa masuk dan membuat “kekacauan” di pondok pesantrn, mereka membawa kebiasaan di kosan di setiap kamar dengan sering dilaksanakannya main PS atau main kartu  remi, sehingga membuat iklim edukasi pun jadi tidak aktif lagi, dan inilah alasan kenapa saya keluar dari pondok pesantren.
Dulunya saya sempat ditahan sama salah satu dewan guru disana ketika saya punya niat ingin keluar di Pondok pesantern, tapi saya pada waktu itu masih ditahan ma dewan guru malahan saya ditantang apakah saya bisa sukses tinggal di tempat yang seperti itu, benar pada waktu saya tidak tahan dengan keadaan seperti ini, saya tidak percaya kondisi pondok pesantren yang kultur agamis menjadi seperti kosan yang tidak ada satu sudut kamar pun yang benar-benar kelihatan seperti seorang penuntut ilmu. Siapa yang menjadi korban?orang-orang yang benar-benar ingin mencari ilmu mereka jadi tidak fokus dalam mewujudkan niatnya.
Masalah ini sebenarnya bisa di atasi juga ada ketegasan di pimpinan pondok pesantern, saya tidak tahu kenapa beliau tidak mau mengeluarkan santri-santri yang tidak sesuai dengan peraturan pondok, niat beliau memang mulia ingin membuat kultur yang agamis di daerah itu, tapi sepertinya akan susah karena kenapa dari pihak masyarakat saja seperti tidak membutuhkan adanya santri disekitar mereka, malahan antara pondok pesantern dengan masyarakat seperti ada tembok besar yang tinggi sehingga susah untuk di robohkan.
Itulah alasan kenapa saya keluar dari pondok pesantern, dan saya pun sekarang tinggal di mesjid sebagai ta’mir mesjid, saya senang sekali tinggal di mesjid suasana nyaman dan tenang dimana tidak ada lagi rasa angkuh dari setiap individu dan begitu dekat dengan masyarak sehingga pembelajaran hidup begitu bermakna ketika tinggal di mesjid, dan inilah alasan kenapa saya keluar dari pondok pesanten mudah-mudah mereka bisa sadar akan status mereka sebagai santri seperti apa.

0 komentar:

Posting Komentar